Rekapitulasi Biaya Pengeluaran #RBP1

Rekapitulasi Biaya Pengeluaran atau disingkat RBP, merupakan pencatatan kecil-kecilan yang saya lakukan setiap harinya. Berfokus hanya untuk mencatat pengeluaran saja. Semua, seberapapun nominalnya. Mau limaratus rupiah, dua ratus, atau seratus rupiah, tetap akan dicatat. Kebiasaan ini saya lakukan semenjak menempati kosan baru, di Pisang Candi 114. Berdasarkan catatan yang saya miliki, pencatatan dilakukan terhitung sejak Per-tanggal 01 Oktober 2012

*) Ini salinan dari kertas folio dan mulai 
menggunakan buku besar (halaman 1)

Namun pencatatannya belum menyeluruh, hanya sampai akhir November tahun 2012. Karena saya mencatat sebatas pengeluaran untuk kebutuhan di kosan baru saja. Seperti: spray, piring, kain pel, ember, dan sebagainya. Maklum saja, perpindahan dari kontrakan banyak membutuhkan barang baru. Karena yang lama ada yang sudah gak layak dibawa, ataupun memang sudah waktunya diganti.

Barulah, pada tanggal 01 Desember 2012, mulai mencatat secara terperinci dan dilakukan setiap harinya. Pada akhir bulan (akhir periode), dilakukan penjumlahan menyeluruh. Dan pencatatan selanjutnya dimulai dari awal bulan berikutnya. Terus berulang begitu, sampai sekarang ini. Puji syukur, masih tetap melakukan pencatatan tersebut.

Bagi sahabat karib saya, mereka sudah banyak yang mengetahui kebiasaan ini. Bagaimana tidak, pada saat main ke kosan, pasti mudah menemui beberapa lembar pencatatan, ataupun buku besar yang saya gunakan. Seringkali mereka mengatakan seperti: “Adu, sungkan aku ngajak kamu ke luar, Cho”. Maksudnya apa?, mereka merasa nggak enak saja, karena salah satu pengeluarannya pasti akan mencatat beban “parkir motor” :D.

Kegunaan mencatat setiap biaya yang di keluarkan, saya jadi bisa membandingkan pengeluaran setiap bulannya. Apakah semakin turun, atau malah makin membengkak. Jadi bisa menekan untuk pengeluaran pada periode selanjutanya. Yakin, Cho?, kalau ini ragu. Hhehe. Itu saja, sih. Ok, kalau dipaksa menggunakan penjelasan ala pejabat (anggap saja gitu), mungkin saya akan mengatakan seperti ini:

“Silahkan, silahkan PPATK, KPK atau BPK sekalipun, untuk menelusuri setiap aliran dana (pengeluaran) saya selama ini. Saya siap membuktikan, siap melaporkan, pun siap menunjukkan bukti-bukti terkait pengeluaran yang dimaksud. Jadi tolonglah, media jangan terus membuat asumsi yang dapat mempengaruhi opini publik. Seolah-olah, saya sudah melakukan penyimpangan terhadap pengeluaran tersebut. Semua ada data, silahkan dicek!." *sambil menuju mobil pribadinya (jangan dianggap serius)
Kalau saya ilustrasikan dalam sebuah jabatan akan seperti itu. Iyah, tapi nggak selebay itu juga, toh ini hanya catatan sederhana saya saja. Ingin membiasakan diri runtut dalam menyusun laporan keuangan, sekalipun dalam sekala pribadi. Kelak, kalau diberi amanah (seandainya, semoga) memimpin sebuah jabatan, akan menjungjung tinggi transparansi dan akuntabilitas. Sehingga menekan penyelewengan yang tak diinginkan. *alah, Cho! *pret

Ngomong-ngomong nih, yah, saya sebenarnya hanya ingin membahas RBP di pertengahan tahun ini saja (Per- 30 Juni 2014). Karena sudah memasuki pertengahan tahun, kan?, itu saja yang ingin saya bahas. Tapi apa daya, berhubung saya belum pernah membahas secara khusus di blog ini, hanya beberapa kali menyinggungnya di postingan yang membahas Sewa Kos dan dalam GA Pak Dhe, yang pernah saya ikut sertakan. Jadi kesempatan kali ini akan bahas secara berkelanjutan.

Seenggaknya biar nggak membingungkan. Panjang lebar saja kalimat saya membingungkan, apalagi setengah-setengah. Hhaha. Yah, hitung-hitung nambah arsip baru di blog ini. Anggap saja mengisi kekosongan arsip di dua bulan terakhir itu –tidak ada satupun postingan. Maklum, habis ditelantarkan oleh pemiliknya, dia blogger yang kejam sekali. Kamu, Cho!. Hah, AKU?, iyah KAMU!. Oh iyah, lupa :P.

Untuk pertama kalinya selama satu tahun penuh, saya berhasil mencatat semua pengeluaran. Itu terjadi selama periode tahun 2013 kemarin. Dengan begitu, membuat saya semakin bersemangat dalam mencatat setiap rupiah yang di keluarkan. Malah untuk mengingatnya, saya pajang di dinding kamar kosan. Baik berupa tabel, grafik dan tak lupa dengan catatannya. Sepertinya akan saya urai di postingan lainnya. Tapi kali ini saya ingin menyampaikan penjelasannya berdasarkan gambar ini.

*) Nggak kebaca jelas, yah? :D

*) RBP = Rekapitulasi Biaya Pengeluaran
*) BBR = Biaya Belanja Rutin
*) BPK = Biaya Penunjang Kebutuhan

Jadi, kalau saya salin ulang, isinya seperti ini:

***
Ada beberapa poin terkait laporan RBP Periode Tahun 2013. Sebagai dasar rujukan, dari hasil data terlapor tersebut. Diantaranya sebagai berikut:

  1. BBR ialah, biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan belanja rutin. Di mana kebutuhan ini pasti dan ada setiap harinya.
  2. BPK ialah, segala biaya yang dikeluarkan di luar BBR, yang cakupannya lebih menyeluruh sebagai penunjang kebutuhan.
  3. RBP merupakan total keseluruhan pengeluaran yang didapat dari jumlah BBR dan RBP, dalam satu periode tertentu.
  4. Pemakaian singkatan seperti BBR, BPK, maupun RBP, itu dibuat sendiri dan khusus untuk pengelompokan biaya. Secara akuntansi, tidak ada hubungannya sama sekali.
  5. Sistem pencatatan yang digunakanpun tidak ada dalam metode akuntasi, namun ada pendekatan yang sama dari sistem yang digunakan.
  6. Warna pada baris tidak mempunyai arti khusus, hanya untuk membedakan.
  7. Laporan difokuskan untuk mencatat seluruh biaya pengeluaran selama berada di Malang. Tetapi, tidak merinci pengurangan saldo/alokasi dana “beasiswa” orang tua.
  8. Laporan ini release berdasar hasil akhir saja. Baik yang berupa tabel ataupun grafik. Sedangkan rekapan tertulis dicatat secara terperinci di dalam Buku Besar RBP.
  9. Pencatatan dilakukan sebagai bahan evaluasi terukur, untuk memonitoring penggunaan dana secara berkalan dan dalam periode tertentu.
  10. Semua data telah disampaikan sesuai apa adanya. Bukan melalui asumsi, perkiraan dan juga tanpa adanya rekayasa. Semua berdasarkan data, yang tentunya dapat dipertanggungjawabkan.
  11. Margin of error sekitar 3%, sehingga hasil terlapor mungkin saja tidak seluruhnya tepat 100%. Tetapi, sudah ada kontrol maksimal untuk menyajikan data yang akurat.
  12. Pemaparan data tersebut tidak untuk eksploitasi, karena sebenarnya itu bersifat pribadi dan rahasia.
  13. Jika Anda membaca sampai poin ini. Dengan segala hormat, diharapkan untuk tidak menyampaikan ke orang lain, tak terkecuali.
  14. Selanjutnya, dihimbau untuk tidak menganggap serius dua poin sebelumnya. Come on, jangan tegang gitu bacanya, rileks saja.
  15. Yang pasti, semua hasil laporan tersebut diperuntukkan untuk kepentingan intern saja. Di luar itu, tidak ada kaitannya sama sekali dan laporan ini berdiri secara mandiri.
  16. Terakhir, apabila ada pihak yang keberatan, maupun bersilang pendapat. Otomatis akan gugur, mengingat poin sebelumnya bersifat mengikat.
Demikian beberapa poin yang bisa dijadikan pertimbangan dan untuk melengkapi hasil audit atas laporan RBP Periode Tahun 2013

***
Kurang lebihnya seperti itu yang terpajang di sebelah hasil laporan perhitungan RBP Periode Tahun sebelumnya -poin ke enam mungkin terasanya ganjil, karena saya nggak mencantumkan tabelnya. Dengan adanya penjelasan seperti di atas, bertujuan mewakili seluruh metode pencatatan RBP ini. Tidak hanya pada periode tahun 2013 saja. Tetapi seterusnya, selama saya tetap menggunakan cara ini. Mungkin perkembangan ke depannya bisa saja ada perubahan, atau malah terdapat pengurangan pada salah satu poinnya. Ah, sudah kayak revisi Undang-Undang saja. *digetok palu hakim

Perlu dimengerti, semua pecatatan ini tidak bermaksud perhitungan. Iya, memang perhitungan, dalam artian sistematis. Tapi bukan perhitungan yang membuat saya jadi enggan mengeluarkan biaya ini, itu. Tidak, selama memang diperlukan, kenapa tidak?. Yang jelas, ada nilai postif yang saya dapatkan. Sederhana saja, seru loh melakukan pencatatan itu, coba deh :D *ngomporin. Selanjutnya saya ingin membahas media pencatatannya dan akan dipaparkan dalam postingan berikutnya:).
Teman-teman, adakah di antara kalian, yang juga melakukan hal yang sama?, nggak harus berupa pengeluaran juga. Misalkan pencatatan pemasukan, hutang (hihi), piutang, atau apapun yang berhubungan dengan keseharian, terutama menyangkut soal uang.


Richo A. Nogroho 
Malang, 05 Juli 2014
Hai, sudah baca yang ini?

25 Komentar. Tambahkan juga komentarmu »

  1. Woh ya ampun, keren buanget, Bro! Kamu benar-benar teliti. Cocok jadi akuntan, auditor, dan semacamnya, hehe....

    Kalau aku dulu sempat pernah nyoba, catat di buku agenda, lalu disalin ulang ke Excel biar pengarsipannya gampang. Tapi cuma bertahan beberapa hari, hahaha....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haduuuu, Mas segitunya mah. membiasakan saja, biar terbiasa, hihi. Amin, tak amini :D

      Wah gitu, andai saja dilanjutkan, seru pastinya, Mas. apalagi kalau sudah berhasil merangkum selama satu tahun, wah, ada perasaan gimana gitu. hhehe. saya juga di excel, cuma perihitungan saja, rencana RBP2 (alah) baru akan saya urai. hhehe.

      Hapus
  2. ya keren! detil sekali

    BalasHapus
  3. Wueleh.. Bahasanya njelimet.. *skip* *langsung komen ajah*

    Perlu ditiru jugak nih Bang, buat proyek di taun depan. Hihihi.. :P
    Makasih uda ngasih inspirasiiiii ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tuh kaaaan, kapan ya bisa nulis yang dipahami, butuh belajar lebih saya *buka kamus

      Iyah, ayuuuuk, lah kenapa nunggu tahun depan, Mbak Beb?, sekarang, kalau bukan sekarang, kapan lagi?, kalau bukan kita, siapa lagi? *eh, bukan kampanye :D
      Nggak perlu ah, harapannya dituru saja, huihihii.

      Hapus
    2. Kapan cobak? :P

      Hahah.. Ya karena emang proyeknya tuh taun depan.. Mubazir kalo dibikin dari sekarang. Lagian masih banyak yang mesti dikelarin dulu.. ^^

      Hapus
    3. Pertanyaannya sangat keliru, coba deh nggak usah tanya dan lebih baik bantu saya menulis menggunakan kalimat yang mudah dipahami pembaca *ngarep :D

      Ada saja alasannya, woahaha. sibuk, iya pecaya, hhaha. mana Mbak Beb, blog barunyaaaa?

      Hapus
    4. Sebenarnya gampang sih.. Tulis aja kek apa yang Abang bicarain sama kawan-kawan Abang. Simpel kan? Jadi bahasanya ngga resmi.. Kalo aku sih gitu.. :D

      Belom boleh tauuuu.. :P

      Hapus
    5. Oh gitu, boleh juga sarannya, hehe. sudah kebawa kebiasaan, kadang tuh mau biasa jadi susah, Mbak Beb. kuehehe. di luar postingan yang masih bisa acak-acakan. ah, acak terus sebenarnya. huahaha.

      Hapus
    6. Masalah keterbiasaan ya.. :D

      Hapus
    7. Iyah, susah, paling nyelenehnya di ketawa, aksi di penegasannya. nyehehe :D

      Hapus
    8. Belom bisa jadi orang nyentrik rupanya.. :D

      Hapus
    9. Kek mana itu pula?, hihihi. damai :D

      Hapus
    10. Bahahah.. Ya kayak postingan ku :P

      Hapus
    11. Haha, kursusin duluuuu, haha.

      Hapus
  4. wow telaten n rapi sekaliiiii.
    aku keuangannya biasa sebelum gajian, di mobile banking aku skrinsyut saldo terakhir.
    tar begitu gaji masuk, lgsg transfer ke rekening lain yg gak boleh diutak atik buat jajan bulanan.
    trus skrinsyut lagi.
    jd akhir bulan tar bisa keliatan sisanya berapa dibanding bulan lalu. gitu doank. pemalas sih saya

    BalasHapus
  5. wow telaten n rapi sekaliiiii.
    aku keuangannya biasa sebelum gajian, di mobile banking aku skrinsyut saldo terakhir.
    tar begitu gaji masuk, lgsg transfer ke rekening lain yg gak boleh diutak atik buat jajan bulanan.
    trus skrinsyut lagi.
    jd akhir bulan tar bisa keliatan sisanya berapa dibanding bulan lalu. gitu doank. pemalas sih saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih berusaha gitu, Mbak :D
      Wih, ini mengamankan biar digunakaan sesuai kebutuhannya, yah. nggak boros di awal. nggak pemalas kok, kan sudah mengontrol alur pemasukan dan pengeluarannya, Mbak :)

      Hapus
  6. tipe cowok rajin nih,,,disiplin pula,,,hmmm cermat juga bisa,,,beruntung ntar istrinya,,,hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aiiiih, Mbak Dwii, ada-ada saja. Amin, amiin. doakan segera nyusul Mbak nikah, huiihihi.

      Hapus
  7. Kalo pake android, ada aplikasinya, Mas. Malah lebih enak tuh, selain mencatat pemasukan sekaligus pengeluaran kita, akan terlihat prosentase masing-masing pos. Coba aja cari pake keyword money manager ato expense manager.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh begitu yah, Mbak. nanti saya coba install aplikasi itu. tapi saya memang sengaja mencatan pembukuan secara manual, Mbak. malah awalnya ingin saya catat di excel saja. karena mudah menjumlahkan di tiap bulannya. tapi saya berfikit, kalau di sana mudah dirubah nominalnya. gambang diganti. jadi saya pakai buku dan dicatat secara manual. meski bisa diganti juga, tapi pasti ada bekas. dan gak terikat dengan aplikasi, yang sewaktu-waktu bisa gak dipakai. biar ada bukti selamanya dengan buku besar. hhehe. makasih infonya, Mbak. nanti saya cek ke TKP :D

      Hapus
  8. giiliiingggg, salut mas ;) Kamu rajin banget nyatetin begituan...bener kata mba yg di atas td.. Istrimu ntr ga ush pusing2 mikirin keluar masuk duit kalo suaminya rajin nyatet gini ;p..

    Tapi jujur aku g bs mas.. dulu pernha coba.. boro2 sukses.. cm tahan 2-3 harian lah hihihihi... emg dasar aku shopaholic bgt lah... jd biaya 2 pengeluaran gini di catet semua, aku nya bisa stress... ;p Makanya ama suami udh bikin perjanjian, uang dia utk tabungan dan pengeluaran RT, dan uang ku utk hura2 keluarga ;p.. jd g perlulah aku pake catatan gini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak Fanny. hehe, saya berupaya membiasakan diri seperti itu, Mbak. haha, kalau sudah beristri (ceileh), itu bagian dia nantinya, Mbak. karena istrilah menteri keuangan dalam keluarga, hhaha :D

      Oh gitu, mungkin Mbak terlampau sibuk, jadi ada yang terabaikan, dan makin lama, semakin ketinggalan untuk dicatat. wah, kalau gitu mendingan nggak dicatat yah, biar nggak kepikiran, huhaha. enaknya, kalau suami-istrim sama-sama memiliki penghasilan, pemasukan keluarga melimpah, dan pasti jadi pegang tabungan. asik :D

      Hapus