Menjunjung tinggi bahasa persatuan

Saya lahir ketika bangsa Indonesia sudah merdeka. Menjalani keseharian tanpa bisingnya suara senjata. Iyah, tidak lagi, Indonesia sudah Merdeka. Meski kemerdekaan yang belum sejatinya dirasakan seluruh warganya. Memang secara konstitusi, Indonesia telah merdeka sejak dideklarasikan oleh Soekarno-Hatta, pada tanggal 17 Agustus 1945. Tetapi, coba cermati, bukankah sebatas merdeka dari penjajahan fisik saja?. Namun belum merdeka secara non-fisik. Sedangkan arti merdeka sendiri adalah BEBAS, bebas dalam artian yang luas.

Dilihat dari kehidupan masyarakatnya, seperti: kesejahteraan, kehidupan ekonomi, sosial, dan lain sebagainya. Belum benar-benar bebas. Saya ambil contoh yang saat ini terasa sekali, adalah krisis kebebasan media sebagai wadah pemberitaan yang independen. Beberapa media masa sudah memonopoli siaran/berita untuk menyudutkan, menjatuhkan, menyebar isu bahkan fitnah pada pihak tertentu, yang notabene dilakukan oleh para elit media tersebut guna mendongkrak popularitas capres/cawapres yang didukungnya.

Masih ingat, kan?, kasus yang dialami produser berita salah satu tv nasional, yang mana beliau menerima peringatan keras atau Surat Peringatan Ketiga (SP3) dari Pimpinan Redaksinya (padahal berstatus no-aktif loh). Jadi SP3 itu diperoleh, setelah beliau bersikukuh menolak menayangkan berita yang memojokkan capres tertentu. Karena menurutnya berita tersebut tidak memiliki sumber yang jelas dan melanggar kode etik jurnalis.

Jika mengacu pada Undang-Undang Pers ataupun Undang-Undang Penyiaran, menolak adanya intervensi demi menjaga independesi beritanya, sudah dilindungi oleh kedua Undang-Undang tersebut. Sekalipun itu intervensi dari pimpinan maupun pemilik medianya sendiri.  Wadu, baru kali saya mengangkat bahasan yang berbau politik. Ok, cukup, Cho!, kamu tidak punya kapasitas berbicara demkikan. Maaf, jadi terbawa arus.

Kembali lagi mengenai kemerdekaan. Sebagai warga yang tidak turut merebut kemerdekaan, bukan berarti tidak melanjutkan kemerdekaan yang diperoleh dari perjuangan keras para pahlawan kita, bukan?. Banyak cara yang bisa kita lakukan. Sebagai generasi muda, saya tidak muluk-muluk, tidak ingin lantang berucap, atau hanya berkoar tanpa aksi. Perubahan dalam hidup saya, sudah menjadi bentuk perjuangan tersendiri. Perjuangan dengan mengedepankan kecintaannya kepada bangsa ini, salah satunya menjunjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.

Bahasa yang resmi digunakan satu hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Juga tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 36, yang mana menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara Indonesia. Sebagaimana jauh sebelumnya telah tertuang dalam “Sumpah Pemuda”, pada tanggal 28 Oktober 1928 di Jakarta. Berikut saya salin isinya, tetapi tidak  menggunakan ejaan asli (van Ophuysen), melainkan dalam bahasa bakunya.

1. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
2. Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
3. Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Maka dari itu, poin ketiga yang menjadi aksi sederhana saya, untuk membuktikan kecintaan kepada bangsa ini. Iyah, karena Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa. Bahasa yang diterima, dimengerti dan dipahami oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang terbentang mulai dari Sabang sampai Meraoke. Indonesia merupakan bangsa yang ber-Bhineka, tapi tetap bersatu dan selalu menjunjung tinggi bahasa persatuan.

Peranan bahasa Indonesia begitu penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kita tahu, Indonesia sangat-sangat kaya akan keberagaman bahasa ibu/daerahnya. Hampir setiap daerah memiliki bahasa tersendiri. Dari data yang saya peroleh, Indonesia diperkirakan memiliki ragam bahasa daerah sebanyak 726. Namun yang berhasil dipetakan ada 456 bahasa daerah. Wau, angka yang tidak sedikit, bukan?.

Bisa dibayangkan, dengan kurangnya penguasaan bahasa daerah lain. Bagaimana mungkin bisa berkomonikasi, bersosialisasi, bertutur kata, menyampaikan ide, gagasan, kepada orang berbeda daerah. Sementara lawan bicara kita, belum tentu mengerti bahasa daerah kita sendiri. Bagaimana mungkin semua itu bisa terjalin, tanpa adanya bahasa Indonesia yang menjembatani keterbatasan tiap masyarakatnya. Sedangkan tak bisa dipungkiri, bisa jadi, kita tak selamanya menetap hanya di satu daerah saja.

Seperti pengalaman saya pribadi, sebagai anak perantauan yang berasalah dari Madura dan memilih kuliah di Malang. Saya akui, kemampuan bahasa Jawa saya minim sekali. Pada mulanya begitu. Sedikit kosa kata yang saya mengerti. Kadangkalah ngerti maksudnya, tapi membalas dengan bahasa Jawa yang belum bisa. Karena di daerah saya pun memiliki bahasa daerah sendiri, yaitu bahasa Madura. Jadi selain bahasa Indonesia, hanya Bahasa Madura yang lebih saya kuasai.

Alhasil, bahasa utama yang saya gunakan adalah bahasa Indonesia. Nggak ada pilihan lagi, Cho. Iyah, entah ketika membeli sesuatu, obrolan sesama teman, atau saat berkomonikasi di lingkungan kosan dan kampus. Memiliki banyak teman yang berasal dari berbagai daerah, suku, ras, agama, dan budaya. Tak heran, menjadi ajang kami untuk saling bertukar kebudayaan dan bahasa masing-masing. Oh iyah, ada sidikit cerita yang selalu saya ingat, mengenai komonikasi menggunakan bahasa Jawa. Saat itu saya masih terhitung baru tinggal di Malang, sekitar tahun 2010.

Cerita pertama: Saya bersama teman-teman ingin pergi berlibur ke Pantai Balekambang, yang letaknya sebelah selatan Kabupaten Malang. Namun di tengah perjalan, terlihat ada Operasi Lalulintas, dengan jarak beberapa puluh meter dari pandangan kami. Kami terpaksa harus menunda dulu dan menunggu sampai Polantasnya membubarkan diri dan memilih untuk menghabiskan waktu di Stadion Kanjuruhan, Malang. Singkat cerita, saya dan Yahya mewakili teman-teman untuk membeli Es Sirup AB*, dan saya pula yang memesan kepada penjualnya (Ibu-ibu):

Saya: “Ibuk, beli Esnya tiga.” pesan saya.
Ibu: “Oh iyah.”. Dengan senyum ramahnya. “Monggo duduk dulu, Mas.”, lanjut beliau, menyarankan kami duduk di bangku yang memang disediakan untuk para pembelinya. Tapi saya tetap berdiri, Yahya pun juga.
Saya: “Tambah satu bungkus lagi, Buk.”. Kami menambah jumlah pesanan.
Ibu: “Sekawan, Mas?.”. Tanya beliau memastikan.
Saya: “..”. Diam, karena saya gak mengerti apa yang Ibu tanyakan. Hanya dari intonasinya saja yang saya sadari berupa kalimat tanya.
Ibu: “Empat yah, Mas?”.
Saya: “Iyah, Buk, empat.”. Balas saya.
Ibu: “Sekawan gak jawab, kalau empat, iya!.”. Ibuk tadi gak lagi tersenyum ramah, tapi nyengir lebar saat menyadari saya tidak mengerti arti dari “Sekawan”, atau dalam bahasa Indonesianya berarti Empat.

Saya hanya senyum anggun saja (pret, nunduk malu). Lantas, Yahya ikut menyambung obrolan kami, –kalau saya artikan dalam bahasa Indonesia– dia mengatakan kalau saya masih belum banyak mengerti Bahasa Jawa dan masih baru di Malang. Iyah, saya juga baru ngerti apa yang kami obrolkan setelah dijelaskan Yahya, dan teman-teman yang mengetahui cerita tadi, juga pada ketawa-tawa.

Cerita kedua: Saya pergi ke warung dekat kosan. Bermaksud ingin membeli kerupuk sebagai pelengkap makan siang. Saya mengawali dengan bertanya “Pak, kerupuknya ini berapa?”, sambil menunjuk ke salah satu kerupuk yang digantung. Bapak tadi membalasnya dengan mengatakan “Gangsal atus, dek”. Hah, saya nggak ngerti Gangsal itu berapa?, kalau Atus, bisa saya artikan ratusan. “Berapa, Pak?”, mencoba bertanya kembali, padahal tadi saya jelas-jelas mendengar yang beliau ucapkan. “Lima ratus”, Oh, ternyata, saya baru ngerti arti gangsal atus (lima ratus) semenjak hari itu.

Waktu itu saya hanya tahu hitungan bahasa Kromo mulai dari Setunggal (satu), Kali (dua), dan Sekawan (Empat, ini dari kejadian beli Es). Itu saja. Karena itu jumlah yang sering saya dengar ketika orang memesan sesuatu. Tapi berkat kejadian lucu (baca: memalukan) itu, saya jadi terus belajar untuk lebih memahami bahasa Jawa. Mulai dari mendengarkan obrolan demi orbolan, atau sesekali menanyakan artinya kepada teman-teman. Saya pun khusus belajar bahasa Kromo ke Danang, dia jago menggunakan bahasa Jawa Kromo. Semakin hari, kosakata yang saya ketahui semakin banyak.

Cerita ketiga: Kalau ini saya agak paksakan saja, soalnya belum mumpuni, tapi sedikitnya sudah belajar dari Danang. Ok, situasinya ketika kami (saya dengan Danang) membeli nasi di salah satu warung. Setelah pesanan kami selesai dibungkus, saya dengan percaya dirinya bertanya “Pinten, Ibuk?” (Berapa, Ibuk?), wih, keren kan, pakai bahasa Jawa Kromo loh. “Sedoso, Nak”, jleb.. ekspresi yang tadinya percaya diri, langsung hilang. Berapa ituu?, saya belum tahu nominal rupiahnya. Saya kemudian mundur satu langkah, sehingga posisi saya sejajar dengan Danang yang berada di sebelah kanan. Dengan lirih, saya bertanya “Eh, Sedoso piro?”, “Piye toh. Sepuluh Ribu”, jawabnya.

Saya hanya berusaha menempatkan diri dalam lingkungan baru. Seperti peribahasa yang berbunyi “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”. Kesadaran saya mempunyai kewajiban untuk belajar bahasa Jawa, mulai dari bahasa sesama anak mudanya (Ngoko), dan juga yang paling halus, yaitu Kromo Inggil. Kalau dalam bahasa Madura, itu persamaannya akan seperti: Ja'-iya, sama dengan Ngoko. Kalau Engghi-Enthen, sama dengan Madya. Sedangkan Engghi-Bunthen, sama dengan Kromo Inggil.

Begitulah pengalaman saya, berkaitan dengan minimnya pengetahuan tentang bahasa daerah sekitar. Saya bersyukur banyak pengalaman yang mengajarkan pemahaman baru. Sekarang semakin mengerti bahasa Jawa. Sampai detik ini juga masih belajar dan begitu juga dengan bahasa Indonesia. Seperti yang sudah dikemukanan di atas, saya ingin menjunjung tinggi bahasa persatuan negara kita. Ingin banyak belajar mengenainya. Berikut beberapa ulasan mengenai keseriusan saya dalam mencintai dan mempelajari bahasa Indonesia:

Mencintai Bahasa Indonesia
Sejak sekolah saya sangat menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Apalagi kalau diminta Guru untuk membuat certia selama liburan sekolah. Menggelitik kalau mengingatnya, mulai dari topik yang diangkat, maupun gaya bahasanya. Semua mewakili sifat dasar anak-anak yang masih polos dan lugu. Saya juga masih ingat ketika pulang sekolah pernah memarahi dan jengkel kepada adik saya, Richa –yang saat itu dia masih kecil dan saya masih duduk di bangku SD. Saya marah, menyadari buku Diary pribadi saya rusak gemboknya. Gembok berbentuk hati dan memiliki dua kunci berbahan dasar Aluminium itu, sudah tidak bisa difungsikan lagi.

Eh iyah, buku diary itu masih tersimpan di kamar saya loh. Ah, tapi malu kalau diceritakan, isinya polos sekaliiiiii. Dan, kegeraman dalam menulis pun berlanjut sampai sekarang, malah sudah menjadi hobi tersendiri. Beberapa koleksi dari buku yang saya miliki, pun hampir 90% di luar materi perkuliahan. Adanya seperti Novel, pengembangan diri, cara menulis dan sebagainya. Hanya sedikit buku kuliah yang saya punya dan malah ada yang terbawa teman kampus lama. Jadi persentasenya semakin kecil.


*) Ini sedikit buku yang saya miliki selama berada di Malang (sebenarnya foto ini saya ambil sudah lama, ketika ingin menceritakan beres-beres kamar kosan (H-1 sebelum wisuda), tapi berhubung fakum, jadi nggak keturutan). Abaikan.

Apa coba yang saya tandai panah merah?. Kamus, iyah, kamus Bahasa Indonesia. Semua teman-teman saya pada heran melihatnya. Ngapain juga bawa kamus?, jurusan saya apa?. Jangankan mereka, dulu sebelum saya meninggalkan rumah dan keluarga. Wadu, kayak anak durhaka saja. Maksudnya sebelum berangkat ke Malang, Mamah juga bertanya-tanya “Kenapa kamusnya dibawa juga?”, tanya beliau heran. Gak salah jika Mama menanyakan hal itu juga. Soalnya saya akan kuliah yang dinilainya tidak terlalu membutuhkan kamus Bahasa Indonesia.

Menanggapi pertanyaan di atas, jawaban saya hampir sama “Saya tetap membutuhkan kamus ini”. Meski saya masih ingat ketika duduk di bangku kelas II Akuntansi 1, SMK Negeri 1 Sumenep. Pada saat ujian bahasa Indonesia berlangsung, ada teman kelas (sebut saja si Andi) yang ke luar duluan. Bisa dibilang ia cukup cekatan mengerjakannya, entah jawabannya asal-asalan atau tidak. Kemudian dia ‘iseng’ berkata “Ayo woi, cepat selesai, Bahasa Indonesia, bahasa kitaaaa!!!”, teriak dia dari luar kelas. Dia seakan menganggap bahasa Indonesia begitu mudah, alasannya karena itu adalah bahasa kita sendiri.

Pandangan saya mengenai bahasa Indonesia tidaklah sesederhana itu. Meskipun bahasa kita, tapi masih banyak yang perlu saya pahami. Belajar menggunakan penulisan yang baik dan benar. Masih terus belajar. Jadi ini salah satunya yang membuat saya tetap membawa sebuah Kamus. Karena saya merasa tetap membutuhkan panduan dari kamus itu –kamus yang sudah saya memiliki sejak duduk di bangku SMP. Beberapa hari lalu, pernah saya singgung dalam postingan “Takjil dalam artian sebenarnya”.

Saya juga sering mengikuti seminar yang materinya tidak bersinggungan dengan perkuliahan sama sekali. Jadinya, setiap kali saya mengajak teman-teman untuk ikut hadir, mereka agak susah diajak. Karena mereka tidak menyukai materi yang dibawakan. Tapi meskipun sendirian saya tetap mengusahakan hadir. Pokoknya kalau sudah ada tema berbau buku dan penulis. Pasti bela-belain untuk menyempatkan diri datang.

Seperti hadir di seminar “Scrientific Great Moment (SGM) 4”, di Widlok, UB. Salah satu pembicaranya, yaitu Tere Liye. Berbicara mengenai kepenulisan. Beliau penulis yang saya kagumi karyanya, keren-keren. Saya punya tiga novelnya dan semua bertanda tangan Bang Tere, alah. Atau pada saat “Talk Show dan Bedah Buku dalam Rangka Hari Ibu”, di UB juga. Meskipun acara yang diselenggarakan bertolak belakang dengan kodrat saya sebagai laki-laki dan peserta seminarnya mayoritas wanita, sedangkan laki-laki dalam hitungan jari saja. Hari Ibu, Cho, pantas saja. Saya tetap antusias untuk hadir. Karena pembicara terakhirnya juga ada Bang Tere.

Sempat berfikir ambil S2, jurusan Sastra Indonesia
Benar, ada masa di mana pikiran saya diselimuti keinginan ini. Padahal waktu itu perkuliahan masih masuk semester enam. Tapi keinginan itu sudah terbesit dalam benak saya. Kelak jika melanjutkan ke S2, saya ingin masuk di jurusan itu. Ingin sekali belajar secara formal dan mengonsentrasikan di bidang ini. Memang sih, akan melenceng jauh dari disiplin ilmu yang saya ambil sebelumnya di Unmer, yakni Sistem Informasi –Puji syukur, tanggal 26 April 2014, saya sudah melewati prosesi wisuda, cuma belum pernah saya ulas di blog ini–.

Saya selalu antusias setiap bertemu sama teman yang mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kadangkala mencari masukan dan saran dari mereka. Tak jarang pula curhat. Seperti yang pernah saya utarakan ke Mbak Lutfi melalui obrolan di facebook. Dia jurusan Sastra Indonesia di UM dan saat itu sudah masuk tingkat akhir. Banyak sekali yang kami bicarakan sebelumnya, hingga pada akhirnya saya curhat akan keinginan di bidang itu.
*) Obrolan kami di facebook, tercatat tanggal 09 Juni 2013

Keinginan itu semakin mengungat. Teman-teman Matras (mahasiswa transferan) tak sedikit yang menyarankan untuk pindah jurusan atau nantinya melanjutkan ke stara dua, dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Mereka merasa saya salah jurusan. Selain karena kebiasaan curhat dengan membuat catatan di facebook, status saya juga isinya panjang lebar (eng, sepertinya tulisan ini juga). Sampai-sampai salah satu sahabat saya, si Kiki, dia membuat sampul facebook seperti ini:

*) Itu perjalan wisata kami, selengkapnya bisa di baca di postingan ini
atau melalui catatan facebook di sini.

Di sana Kiki menjuluki saya Novelis (sikik-sikik adalah bahasa Malaysia, artinya dikit-dikit). Betul, abaikan saja yang saya lingkari, jangan terlalu dimasukkan ke hati, yah. Serius Itu bukan atas perintah saya. Tapi berkat itu, membuat saya semakin bersemangat. Karena sudah dikelompokkan dalam kategori dari sesuatu yang ingin saya raih.

SMS tanpa singkatan
Akronim dari SMS adalah Short Message Service. Iyah, saya tahu. Lantas, kenapa tidak disingkat?, satu alasan kongkrit saya; karena mulai membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia berdasarkan ejaannya. Saya pun tahu, mungkin banyak yang kurang sepakat dengan cara ini. Karena sudah jelas-jelas melenceng dari fungsi sms sendiri, yang mana sebagai pengiriman pesan singkat.

*) Itu yang saya utarakan di postingan ini

Dengan kebiasaan saya di atas, tak ayal banyak yang mengomentari, diantaranya seperti: kalimatnya kaku, terlalu formal, atau ada yang bertanya: “Cho, kamu sms apa nulis cerpen?”, .Celakanya lagi, saya kalau ngirim atau membalas sebuah pesan selalu panjaaaaaaang. Misal, teman-teman ngirim satu-dua baris saja, saya balas dengan kelipatannya, malah panjang lebar sampai sedetail mungking. Nggak tahu yah, paling nggak bisa sms singkat atau merespon dengan hanya tertawa.

Sampai ada teman saya bergerutu: “Adu, ngantuk bacanya Cho” atau ada juga yang bilang “Sampai capek nurunkan scrollnya ke bawah”. Terlebih bagi orang yang baru mengenal saya, pasti tambah kaget, dan pertanyaan serupa kerap kali muncul. Haha, saya nyengir kuda saja kalau membaca respon mereka.

Penggunaan di blog pribadi
Dalam blog (utama) saya ini awalnya menggunakan istilah bahasa Inggirs. Seperti pada menu utama: Home, About Me, Contact. Pada menu samping juga begitu, awalnya Popular Post, Recent Post, dan seterusnya. Tapi seiring perjalanannya saya ganti ke dalam bahasa Indonesia. Salah satu perubahasannya dapat dilihat melalui gambar berikut ini:

*) Dulunya seperti di atas
*) Berubah menjadi ini

*) Juga sama, ada perubahan di “Tentang”, menjadi “Siapa Richo?”

*) Sekarang seperti ini (sama seperti sebelumnya)

Perubahan di atas sempat saya ceritakan ke teman maya. Kalau tujuan saya ingin menggunakan bahasa Indonesia, sebagaimana saya selaku pemiliknya adalah orang Indonesia. Iyah, menggunakan bahasa asing memang terlihat keren dan internasional. Tapi saya lebih bangga menggunakan bahasa Indonesia. Hanya saja tinggal bagian footernya yang masih menggunakan bahasa asing. Agak kaku menggantinya dalam bahasa kita.

Komit meninggalkan bahasa Alay
Diakui dulunya saya termasuk dalam golongan anak alay. Baik dalam berstatus, komentar, pesan, ataupun di sms. Kalau mengingat dan membaca ulang tulisan-tulisan lama, lucu sekali. Kadang nggak percaya “Kok dulu bisa seperti itu, yah?”. Saya contohkan kata alay yang pernah digunakan, seperti: dunkz, datang’y, b’berapa, gag, kgak, laen, yach.

Saya berusaha meninggalkan golongan itu. Mulai memperbaiki ucapan dalam kalimat, maupun secara langsung. Karena sudah melenceng jauh dari kaidah Bahasa Indonesia. Saya membaca catatan di facebook banyak mengalami perubahan. Misalnya dari “datang’nya” menjadi “datang nya”, terus mengalami perbaikan, sehingga sekarang saya sudah mengganti kedua-duanya, menjadi “datangnnya”. Penyebutan diri juga mengalami perubahan, dari dulunya “aku”, sekarang menjadi “saya”. Banyak sekali perubah yang saya rasakan.

Saya jadi teringat perkataan Raditiya Dika, salah satu penulis yang saya kagumi, ia  pernah mengatakan dalam acara Stand Up Nite 2, di salah satu kafe di Bandung. Kalau tidak keliru, pada tanggal 07 Agustus 2011 yang lalu. Dalam video keduanya, dia mengakhiri penampilannya dengan mengatakan “..ternyata alay adalah proses menuju kedewasaan”. Karena menurutnya, itu merupakan skema manusia Indonesia, mulai dari “Lahir → bayi → balita → remaja → alaaaay → dewasa”, tutupnya, yang tak henti-hentinya mendapatkan sorak dan tepuk tangan penonton.

Setelah nonton video itu saya sempat merenung, sesekali tersenyum kalau mengingat yang Bang Dika katakan. Dalam batin saya berkata “Benar yah, sepertinya saya sudah melewati titik itu”, dan tak lama kemudian timbul pertanyaan “Apa iyah, saya sudah beranjak dewasa?”. Saya tidak akan menjawab pertanyaan itu di sini. Saya hanya terus berusaha memperbaiki diri. Mengendalikan ucapan, mengontrol dan menghindari segala keluhan, umpatan, cacikan, dan apapun sejenisnya, di dunia maya dan terutama di kehidupan nyata. (baca di sini)

Saya juga sudah menggunakan identitas asli di dunia maya. Seperti nama akun facebook yang dulunya alay, seperti Chocho Hugo d'Cuthbert. Tetapi sekarang sudah kembali menggunakan nama berdasarkan akta lahir. Memang sih, nggak ada hubungannya langsung dengan bahasa. Tapi dengan seperti itu, saya ingin benar-benar melepas atribut ke-alay-an dan menyatakan diri sebagai “alumni” anak alay, bukan lagi terlibat, apalagi penerus. Cukup.

*) Kalimat yang pernah saya ungkapkan di postingan ini

Kalimat yang saya garis bawahi merupakan keinginan saya untuk berubah secara menyeluruh. Meski sudah menganti ke nama asli, saya masih mencantumkan nama ‘alay’ yang pernah digunakan sebelumnya. Kenapa?, karena makna yang terkandung di dalamnya sebenarnya bagus. Diadopsi dari nama tokoh-tokoh di film Harry Potter. Bahkan, rasa-rasanya ingin memiliki kepribadian yang diwakili oleh makna tersebut. Bisa dibaca di sini, atau penjelasan di catatan facebook.

Saya terus menjauh dari golongan alay. Menghindari gaya penulisan yang tidak Pak Dhe inginkan “aqik4 cInt4 p4kD”, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebagai perusak tatanan bahasa Indonesia. Iyah, kesadaran saya sekarang berubah. Bahkan, perkataan bang Dika yang dulu pernah membuat saya tersenyum, sekarang sudah tidak lagi. Karena saya mulai menumukan pemahaman baru mengenai ini. Seperti apa yang pernah Bang Tere sampaikan, berikut ini:

*) Postingan tertanggal 29 Juni 2014. Sumber langsung dari sini

Membaca itu nusuk sekali. Sakitnya tuh di sini, iyah, di hati (alah). Bang Tere memang terkenal dengan gaya Satire yang selalu ‘ngena’. Jika direnungi dan dipahami memang benar juga. Tapi, saya tidak ingin menyesalinya, semua sudah berlalu. Dan bagaimanapun juga saya tetap bersyukur, bersyukur bukan lantaran pernah alay, tapi bersyukur karena cepat sadar meninggalkannya. Yiah.

***
Memang banyak hal yang membuat saya bangga pada negeri ini. Jika diurai semua, tak kan pernah habis untuk dibahas. Setiap perjalanan hidup yang saya lalui memiliki makna luar biasa, yang membuat saya tidak pernah habis berucap syukur. Sebagai bagian dari generasi mudah, sudah selayaknya memelihara dan menggunakan bahasa Indonesia.

Saya tidak ingin kembali pada fase yang Bang Tere sebut Gagal. Seperti diketahui, kalangan anak muda sekarang masih banyak yang mengadopsi bahasa alay, atau mereka menggapnya bahasa gaul?. Saya tidak ingin lebih jauh mengupas fenomenia itu. Saya yakin kalian sudah menaruh prihatin akan kondisi tersebut. Mudah-mudahan saja segera sadar dan membenah diri.

Jika ada yang bertanya “Apakah sekarang masih belajar Bahasa Indonesia?, masih, masih terus belajar. Karena faktanya sekarang saya masih belum bisa menulis dengan baik dan benar. Iyah, kalimat yang mudah kalian temui di halaman “Tentang Saya”. Ataupun melalui cuplikan berikut ini:

*) Abaikan sebutan Mahasiswanya. Belum saya ganti.

Saya menyadari masih banyak yang perlu dipelajari. Terus berbenah diri dalam memperbaiki tata penulisan yang ada selama ini. Membekali diri dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bersyukur lagi kalau sesuai dengan pedoman umum, Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).  Iyah, seperti itu salah satu bukti kecintaan saya kepada Indonesia, dengan turut andil melestarikan bahasa yang sudah menjadi karakter Bangsa Indonesia.

"Saya bangga terlahir di Indonesia.  Saya bangga menggunakan Bahasa Indonesia, dan saya terus bertekat untuk menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.".

Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia
Hai, sudah baca yang ini?

78 Komentar. Tambahkan juga komentarmu »

  1. mantap mas postingannya, tapi terus terang saya belum begitu paham arah dan tujuan ni artikel kemana ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas.
      Waduuu, saya juga nggak ngerti, Mas. hihihi.
      tapi selaku yang nulis, ada keharusnya ngerti tulisannya sendiri. jadi mungkin ini yang bisa cooba saja sampaikan:

      pertama, karena temanya Aku dan Indonesia, jadi pada alinea pertama, saya berusaha mengangkat sudut pandang saya mengenai bangsa ini (sebelum masuk ke topik), tak terasa saya jadi ngebahas soal polikik, berkenaan dengan contoh yang saya angkat. di atas saya sudah bilang "Maaf, jadi terbawa arus.", dan itu sampai berhenti di paragraf keempat. (mohon maaf, kalau membaca berhenti atau belum sampai melewati paragraf keempat, saya pastikan akan merasa tidak nyambung dengan judulnya).

      kedua: barulah pada paragraf kelima, kalau saya kutip "...Perubahan dalam hidup saya, sudah menjadi bentuk perjuangan tersendiri. Perjuangan dengan mengedepankan kecintaannya kepada bangsa ini, salah satunya menjungjung tinggi bahasa persatuan, yaitu Bahasa Indonesia.". sudah mulai masuk ke pokok bahasan dan seterusnya.

      ketiga: mengenai sub bahasan (yang saya cetak tebal), itu menceritakan perjalanan saya mengenal dan mencintai bahasa Indonesia, sampai komit ingin belajar. seperti kalimat "Berikut beberapa ulasan mengenai keseriusan saya dalam mencintai dan mempelajari bahasa Indonesia:".

      Selebihnya mengupas itu, kecintaan saya terhadap bahasa Indonesia. maaf, kalau kalimat saya sulit dipahami, Mas. masih belajar. dan mengenai pertanyaan Mas di atas. saya di sini tidak berusaha membawa pembaca dalam pemahaman tertentu. hanya menceritakan kecintaan saya kepada bangsa ini, melalui Bahasanya. seperti penutup di paragraf terakhirnya "Iyah, seperti itu salah satu bukti kecintaan saya kepada Indonesia, dengan turut andil melestarikan bahasa yang sudah menjadi karakter Bangsa Indonesia.". sekali lagi, maaf, kalau tulisan saya membingungkan Mas dan pembaca lainnya :)

      Hapus
    2. Intinya aku cinta bahasa persatuan, bahasa Indonesia
      Salam SATU bahasa....

      Hapus
    3. Iya, Mas, harus bagi kita, sebagai warga negara Indonesia ;)
      Salam satu bahasa, sebangsa dan setanah air. hehe.

      Hapus
    4. Ternyata mas richo ikut kontes ya, baru saya mengerti :D

      Hapus
    5. Loooh, hhehe. iyah, Mas, ikut kontesnya Pak Dhe :)

      Hapus
  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan :Aku Dan Indonesia di BlogCamp
    Dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali, Pak Dhe, makasih sudah dicatat sebagai peserta. maaf, kalau isinya kurang berkenan :)
      Salam juga hangat dari Malang.

      Hapus
  3. Hahah.. Abang mau ambil S2 jurusan Sastra Indonesia? Semoga dimudahkan ya, Bang.. Amiiin.. :)

    Ohya, semoga menang ya giveawaynya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempat berkeinginan gitu, Mbak Beb. tapi masih saya pertimbangkan lagi, ini berhubungan dengan keharusan (seandainya saya mengarah jadi dosen) harus linier, atau gelarnya berkelanjutan. itu yang bikin bimbang. tapi untuk fokus sekarang, saya ingin cari kerja dulu, setidaknya setahun berlalu, baru insyaAllah, mudah-mudahan keturutan, inin lanjut :).

      Amin Ya Allah. terima kasih doanya ;) *elus Kuro

      Hapus
    2. Amiiin.. Semoga dilancarkan ya, Bang.. :D

      Kalok aku pribadi emang ngga ada niatan buat S2, walaupun uda ditawarin sama bapake tercinta. Hihihi.. Uda ngga sanggup lagi belajar. :P

      Hapus
    3. Amin Ya Allah, terima kasih doanya banyak, Mbak Beb :)

      Wah, saya dulu kecil berkeinginan, minimanya sampai S2, hihi. eman, Mbak, sudah disediakan sarana-prasana tuh, beliau ingin. hehe. tapi sama sih, ortu sudah desak lanjut, saya malah ingin cari pengalaman kerja dulu, hihi. soalnya selama ini, saya belum pernah merasakan masuk dunia kerja (kalau magang SMK, pernah, dua kali), tapi sebagai pekerja murni, belum. ingin merasakan keringat mencari penghasilan sendiri, belum pernah nerima gaji, pengeen. jadi ingin fokus ke arah sana dulu (adu, jadi curhat lagi, hhaha).

      Hapus
    4. Sama-sama, Bang.. :)

      Wkwkwk.. Ya ngga papa donk curhat.. Kan ngga dosa.. :D
      Ada benernya kok pemikiran Abang.. Tiap orang emang lain-lain yah. Jadi keputusan buat ini itu ngga bisa dijudge. Asalkan bisa bertanggung jawab sama apa yang uda diputuskan sih aku rasa ngga masalah.. :P

      Hapus
    5. Sering-sering mendoakan, yah. huihihi. maunya, hhehe.

      Kan malu, pada semut yang berbaris di dinding, menatap saya curiga. seakan penuh tanya, sedang ada apa di sini *loh, kok nyanyi :D
      Sepakat, Mbak Beb. selama keputusan dihasilkan dengan pertimbangan. kita percaya, semua memiliki arah tujuan yang dikehendakinya. semoga atas pilihan kita, dipermudah jalannya. semangat untuk kita *tos :D

      Hapus
    6. Bah. Jadul kali nyanyinya! Bahahahah.. :D

      Iya bener.. Ada banyak pertimbangan ya..
      Ah.. Mulai galau lagi.. :P

      Hapus
    7. Lagu kenangan, huhaha. saya pernah membuat tulisan dan menyomot lagu itu :D

      Iyah, Mbak, tinggal fokus atas apa yang dipilih. jangan galau, dilalui saja prosesnya ;)

      Hapus
    8. Wkwkwk.. Pantesaaan.. Lagu kenangan rupanya.. :D

      Yap.. Lagi berusaha ngelewatin prosesnya ini..
      Meski sakit.. :P

      Hapus
    9. Hhaha, ketahuan dah, hihi.

      Semangat, Mbak Beb, jangan dirasakan, tapi dijalani, hihihi.

      Hapus
    10. Cieee.. Kenangan bersama siapa tuuuh? :D

      Semangaaaat! Hahah..

      Hapus
    11. Kisah kasih di sekolah, hhaha. kata lagunya gitu :D

      Siiip, semangat ;)

      Hapus
  4. Ada fase-fase yang bisa mengubah gaya menulis ya. Saya juga begitu. Dulu awal-awal tulisan di blog saya agak berlebihan. Sekarang rasanya mirip dengan Rico, berusaha menulis dengan bahasa Indonesia yang lengkap.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, Mas Sandy, kalau dirangkum pertahun, itu terlihat mengalami perubahan. seiring pemahaman baru yang didapat. wah gituu, haha, nggak sendiri lagi, hhehe. sip, ketimbang alay, mendingan jauh-jauh yah, Mas :)

      Hapus
  5. Artikelnya bagus.

    Ternyata lagi ikutan kontes juga ya. Good luck aja, Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas Angga.
      iyah, lagi ikut kontesnya Pak Dhe. Ayuk ikutan, kalau belum. Amin Ya Rob, makasih :)

      Hapus
  6. melihat postingannya sih saya sangat percaya kalau mas rhico hobbi menulis.. lihat saja postinganya super panjang banget hehehe.. tapi hebat deh saya salud mas.. saya sampai saat ini masih belum bisa menulis dengan baik mas.. masik amburadul tulisan saya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang lebihnya begitu, Mas. aduu, kalau itu kebablasan, hhaha. wah, jangan nyamar gitu dong, Mas, apa perlu saya sewa intelejen untuk membongkar?. hihihi. saya juga masih belajar, masih banyak yang perlu saya pahami. kalau ada saran, saya dengan senang hati menerimanya, Mas :)

      Hapus
  7. hihi, ini postingannya dalam banget mas, menusuk jantung ishmah *ehh :D
    karena ishmah sendiri dalam keseharian masih sulit berbicara pakai bahsa indonesia apalagi kalau sama teman :D

    keren mas, ishmah ntar coba deh bicara pake bahsa indonesia :D

    BTW< salam kenal dr sebrang, mas ! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Curhatnya menjiwai, Mbak, hhehehe. mak jleb *loh
      kalau keseharian tergantung situasi dan lawan biacaranya, Mbak, kalau di lingkungan mbak masih kental bahasa daerahnya, nggak salah lagi pasti begiu :)

      Makasih yah, Mbak. silahkan, cintai bahasa kita :)

      Salam kenal kembali. haha, sebrang mana? Bengkulu, yah :D

      Hapus
  8. Asli ini sih emang penulis banget yaaah :D saya nulis 500 kata aja rasanya ngosngosan mas heehe

    Semoga citacitanya ambil S2 sastra Indonesia terwujud yah..
    Duh ngomongin alay, jadi berasa ditegur, kapan ya saya bener-bener pensiun dr dunia alay --"

    Btw, goodluck yah GA-nya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis cerita keseharian, Mbak, hihi. waaa, Mbak Ran, pasti nulisnya sambil lari-lari, yah?, hhehe, bercanda.

      Amin, semenjak saya tahu peraturan sekarang, kalau untuk dosen harus bergelar linier, jadinya bikin bingung, Mbak. masih saya pertimbangkan lagi akhirnya. hhaha, perasaan sudah nggak tuh, hihi.

      Amin, terima kasih, Mbak Ran :)

      Hapus
  9. Keren nih postingan, aku juga lagi belajar nih, mencoba untuk pakai bahasa Indonesia di blog, nggak pakai bahasa asing, kalau ada bahasa daerah itu aku khususkan sendiri , sebagai obat rindu sama kampung halaman nih :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mbak El. sama-sama belajar, Mbak, saya juga masih berusaha mengaplikasikannya dalam blog ini. masih butuh belajar banyak. wah, asik, rindu terobati setelah menggunakan bahasa daerah :)

      Hapus
  10. wah...postingannya mantap,,panjang dan jelas,,,kalo bahasa sih sebenarnya bahasa layaknya kita ngomong di depan orangnya langsung,,mungkin itu lebih enak ya,,,sukses lombanya mas,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Mbak Dwi. haha, kalau curhat nggak sadar diri, kebablasan, hihi. iyah, Mbak, mengkondisikan dengan lawan bicara. Amin, makasih banyak, Mbak :)

      Hapus
  11. wihh ternyata agan ini anak madura juga ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, anak Madura, Mas. lebih tepatnya lagi, di Sumenep. wah, namanya pakai ID "Anak Madura", salut. saya lihat juga domainnya, sama. bukti kecintaan pada Madura. setuju. salam Taretan :D

      Hapus
  12. Ini baru mas richo jago nulis panjang ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihhihi, Mbak Nunu tahu saja, jangan dibilangin, Mbak. maluuuu :D *khilaf :D

      Hapus
  13. Kalau meninggalkan bahasa alay, alhamdulillah, sudah sejak saya masih SMA. Namun, kalau ditanya tentang singkatan-singkatan di penulisan SMS masih sering saya lakukan semenjak ponsel yang saya gunakan untuk SMS dan telpon menggunakan tombol jenis keypad (Maklum, sekarang yang layarnya disentuh-sentuh baterainya sangat boros)

    Penggunaan di blog sendiri saya sudah mencoba menggunakan Bahasa Indonesia yang 'normal'. Sempat sebenarnya blogging dengan bahasa yang 'tidak normal' alias alay.

    Tulisannya sangat inspiratif. Semoga banyak kaum muda (saya merasa tua) yang membacanya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaah, bagus sekali, Mas. tidak terbawa arus sama sejauh itu. kesadaran memang dibutuhkan lebih cepat, sayang kalau hanya ngikuti perkembangan yang dibilang 'gaul', padahal merusak bahasa kita, yah. oh gitu, kebiasaan saya ini memang jarang dilakukan orang, gak sesuai dengan tujuan dari fungsi sms sendiri, ihihi. soalnya ingin membiasakan diri memakai bahasa Indonesia secara utuh.

      Sip, saya juga berusaha menyampaikan cerita melalui bahasa Indonesia. selalu ada pergeseran yah, semakin lama, makin tersadarkan untuk menggunakan gaya penulisan yang baik.

      Mudah-mudahan, Mas. berbagi cerita, puji syukur kalau ada yang merasa tergerak untuk ikut menggunakan bahasa kita sebaik mungkin, sesuai pemahaman kita.

      Hapus
  14. wah cape nih bacanya hehe...
    tapi ya kita sebagai warga negara Indonesia tentunya harus bangga dengan bahasa kita , Bahasa Indonesia....happy blogging dan tetep semangat aja mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huihihi, ampuuun, Mas, ampuun :D
      benar, benar, harus. dan sebagai warga yang baik, menggunkan bahasa Indonesia. terima kasih, Mas. semangat :)

      Hapus
  15. ikut ngramein aja ah
    salam kenal mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, terima kasih, Mas. hhehe.
      Salam kenal kembali :)

      Hapus
  16. wahhh ceritanya bikin aku ketawa mas richo aku jawa lho sedkit banyak tau cerita bahasa jawa di atas jadi ngakak sendiri nih, dan sama mas richo saat aku ambil s1 sekitar semester 1 baru kepikiran kenapa dulu saya nggak ambil sastra aja ya, ahhh dari pada pusing saya ikut komunitas menulis pokoknya apapun yang mendukung saya bisa berjibaku dengan nulis deh, meski ngeblognya masih naik turun nulisnya hehehe, suka bin seneng baca post ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, kah?, Mbak sepertinya menikmati rasa malu saya itu, huhaha. bisa belajar bahasa Jawa ke Mbak juga nih, haha, maunya :D. oh gitu, iyah kalau sudah dijalani, fokus saja ke sana. keterbasan tak sampai kuliah di sastra bisa belajar di mana saja, yah. termasuk dengan bergabung bersama para blogger. saya juga banyak belajar dari mereka. saya malah sempat fakum dua bulan. pikiran gak memungkinkan, entahlah, hhaha.

      Hapus
    2. hahahah menikmati banget hehe lumayan bisa llah saling tukar pengalaman kalau setunggal, kaleh, tigo, nggeh, mboten, sedikit banyak bisa. Fakum ngeblognya gitu?

      Hapus
    3. Huahaha, terima kasih, Mbak Amri *sodorkan panci :D. iyah benar, Mbak. hehe, saya juga makin ngerti, banyak belajar dari pengalaman juga dan lingkungan ngaruh. iyah, selama itu :D *dijitak blogger lain

      Hapus
  17. Jangan sampai bahasa alay menggantikan bahassa Indonesia ya he he..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wua, iyah itu jangan sampai, Mas. hhehe. resikonya generasi muda kalau masih berada di golongan itu, wih, makin tak terkendali ke depannya.

      Hapus
  18. wah saya kagum nih dengan tulisannya panjang sekali yah mas, saya bingung kalau suruh nulis sebanyak ini perlu belajar banyak nih sama mas Richo, btw semoga sukses dengan lombanya mas, Good Luck !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Mas, kebiasaan curhat kari ke mana-mana, hihihi. wadu, mestinya saya harus belajar ke Mas Anthonie, itu yang benar. Amin Ya Rob, terima kasih banyak doanya, Mas. sukses juga untuk, Mas :)

      Hapus
  19. saya juga sangat senang dengan bahasa indonesia, senang bercerita, membuat cerpen dsb. tapi kadang untuk penulisan bahasanya kadang belum bisa bener, kalau untuk masalah bahasa sih, saya menyesuaikan aja tergantung dari siapa targetnya. saya sering pakai bahasa "gue" "loe" yang mungkin itu alay, tapi saya nyaman dengan gaya bahasa tersebut.. Hmmmm sukses aja mas bro
    banyak - banyaklah belajar bahasa jawa,,, heheh :) nice post.. salam :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa, sip tuh, Mas. sudah banyak karya dihasilkan. saya juga, parah malah. mengenai sebutan gue dan loe, nggak alay, kok, sebutan yang mengalami perkembangan. tidak merusak ejaan bahasa yang ada, kata baru dan di KBBI juga sudah ada. iyah, Mas, kalau nyesuaikan dengan anak muda, itu tepat sekali. sukses juga, Mas Ahmad :)
      haha, iyah, masih banyak yang perlu saya ketahui, Mas. ajariiiiin, hhaha. terima kasih, salam kembali :)

      Hapus
  20. Waduh panjang banget, saya gak kebayang bisa nulis sepanjang ini, mantabs pasti sangat bermanfaat.

    Salam dari Pulau Dollar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, tidak ada pilihan lain, Mas. biasanya saya buat berkelanjutan, tapi berhubung ikut kontes, jadinya saya tetap jadikan dalam satu postingan. saya juga tidak ambil resiko dijewer Pak Dhe nantinya, kalau dibuat bersambung. hihihi. *nolah-noleh, sambil lihat Pak Dhe. saya tidak mengajak secara langsung, tapi mudah-mudahan ada yang tergerak, khususnya golongan dari alumni saya, haha. Amin.

      Salam juga, dari kota Apel :)

      Hapus
  21. Dari sejak awal berkunjung ke blog ini dan baca postingannya, aku sudah mengira-ngira bahwa si penulisnya sangat memperhatikan masalah bahasa (Indonesia). Ya, itu tampak dari tulisannya, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, belajar membiasakan diri, Mas. saya merasakan ada kegunaannya, lama-lama semakin jeli memperhatikan apa yang kelirus. wah, pokoknya masih banyak yang perlu saya perbaiki, Mas. terima kasih kunjungannya ;)

      Hapus
  22. Hahaha
    Banyak juga ternyata yang mengatakan tulisan ini panjang banget. Saya sudah sering baca tulisannya Richo yang beginian, jadi tak perlu komentar lagi.. :D

    Masalah tulisan ini, saya sedikit mengambil pemahaman bahwa, cinta Indonesia bisa dimulai dari hal kecil semisal tulisan atau ejaan pada menu dan semuanya di blog pribadi. :)

    Sip mas..
    kau memang berbakan jadi penulis panjang.. :D
    Panjang tulisannya.. Hahaha

    Salam saya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya hanya perasaan mereka saja, Mas *digebukuin rame-rame. hhaha, iyah Mas Rosyid mah sering ngatain panjang, huhaha. makasih, pengertian gitu, buhaaha :P

      Iyah, Mas, kalau peserta lain mengangkat hal yang luar biasa, saya ngambil dari kecintaan terhadap bahasa Indonesia, dengan mengunakannya sesuai ejaannya. blog ini menjadi penyaluran kesukaan saja, dengan menulis :)

      Hhaha, ada-ada saja, huihihi.
      Saya nggak merasa kok, Mas *digebukin lagi

      Salam kembali dari saya :)

      Hapus
  23. bisa dibayangkan kalau tidak ada bahasa Indoneisa sebagai bahasa pemersatu, mungkin untuk komunikasi, orang akan menggunakan bahasa isyarat agar bisa sama-sama paham :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Kang Ucup, akan susah tercipta komonikasi yang lancar, tiap daerah terkesan berkelompok. cerita yang saya angkat di atas contoh kecilnya, untung ada bahasa Indonesia, jadi bisa saling memahami maksudnya :)

      Hapus
  24. Tulisannya oke banget, semoga apa yang di cita-citakan tercapai ya mas, kalau saya sampai hari ini masih terus belajar tentang penulisan yang benar, dan banyak masukan dari sini.

    Salam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waa, Mas Indra, terlalu berlebihan, hhehe. Amin Ya Allah, terima kasih doannya, Mas. sama, terlebih saya, terus belajar dari para blogger, termasuk Mas Indra, semuaaanyaaa.

      Salam juga, Mas :)

      Hapus
  25. WOOW.. Panjang banget artikelnya..
    Hehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak juga kok, Mas *membela diri
      Hihihihi :D

      Hapus
  26. saya juga masih belajar Indonesia yang baik dan benar,
    sebenarnya untuk urusan bahasa saya termasuk yang susah, lidahnya kali ya. waktu tinggal di mayoritas Jawa saya sampai bawa 'translater' setiap kali ke pasar :(
    sukses di GA-nya blog camp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, saya jauh lebih belajar, Mbak, hihi. maklum, masih minim kemampuan bahasanya. wah gitu, nanti lama-lama terbiasa yah, Mbak. oh iyah, makasih, Mbak, makasih. Amin :)

      Hapus
  27. artikelnya panjang bener ya. gua jadi bayangin menerima sms dari lo. hahaha.
    tapi iya sih, malah merembet kemana2, mulai dari politik, bahasa, sastra, bahasa alay. tapi keren kok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Entah, banyak yang bilang gitu, Mas, hohoho. ah, gak usah dibayangin, sini mana nomornya, muahaha :D
      Iyah, kalau sudah curhat, nyelonong ke segala arah :D. saya berusaha mencari keterkaitan dengan cara mencintai bahasa Indonesia, Mas. terima kasih :)

      Hapus
  28. bacanya capek.. hihihi..
    tapi lucu juga..
    dulu juga pgn disastra.. tapi apa daya malah tak ikut keinginan..
    tapi bisa lah berlajar sikit-sikit.. :D
    salam kenal mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hua, hihihi.
      sama dong, tos dulu, Mas :D. iyah, belajar dari sesama blogger yah, haha.
      Salam kenal kembali, Mas Dyaz :)

      Hapus
    2. iya mas... :D
      belajar sendiri aja lah.. :D
      salam kenal juga mas :D

      Hapus
    3. Hhehe, otodidakpun jadi, gak mengurangi kesukaan kita yah, Mas ;)
      Ok, terima kasih, Mas :)

      Hapus
  29. puanjang mas. saya jg berusaha pakai bahasa Indonesia 100%. kalaupun ada bhs asing/daerah itu pun krn terpaksa atau menyesuaikan dg kalimat pendukungnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak yang bilang gitu, Mbak, hihi. oh iyah, kalau saya masih belajar. benar, ada saat itu diperlukan, ada istilah yang memang butuh bahasa asing soalnya.

      Hapus