Perbedaan Bis Ekonomi dan Patas

Bis umum yang sering dijumpai dapat dibagi menjadi dua kategori kelas. Yang pertama Bis Ekomoni, dengan tarif minimum. Kedua, Bis Patas, yang harganya relatif lebih mahal daripada tarif Bis Ekonomi. Jika kembali dilihat dari besarnya tarif, keduanya memang memiliki perbedaan, yakni lebih mahal Bis Patas. Tapi kalau dari segi kuantitas penumpangnya, tentu Bis Ekonomilah yang paling banyak.

Moda transportasi ini kerap kali saya gunakan ketika hendak pulang kampung, maupun saat kembali berangkat ke Malang. Entahlah, sudah yang keberapa kalinya menaiki Bis, rasanya sulit untuk menghitungnya (ngapain juga yah dihitung). Setidaknya dalam sebulan saya bisa satu sampai dua kali pulang ke rumah. Bahkan nyaris selalu naik Bis, ketimbang naik sepeda motor. Iyah, alasannya pasti kalian sudah tahu :D.

Orang tua saya, terutama Mamah lebih menyarankan naik Travel. Mungkin karena pertimbangan lebih aman, tanpa perlu capek oper Bis, atau enaknya dapat diantar langsung ke kosan. Tapi sesering beliau menyarankan, selalu saja saya tolak. Bukan maksud mencari kerepotan, atau mengabaikan saran orang tua. Tapi justeru banyak situasi pada saat naik Bis yang bisa dijadikan pengalaman singkat.

Mulai dari mengantri, desak-desakan, nunggu Bis ngetem, ketemu pengamen, penjual asongan, dan juga pencari dana sosial untuk berbagai keperluan. Selain itu bisa dapat makanan atau buku gratis dari pedangan asongan yang dibagikan suka-suka kepada para penumpang (hhaha, tapi jangan lupa dibayar kalau pengen:P). Iyah, semua itu tidak akan saya dapat jika menggunakan jasa travel. Seperti kejadian tempo hari juga. Ketika saya mau berangkat dari rumah menuju ke Malang (Akibatmengabaikan Bis Ekonomi, red).

***
Sesuai judul dan pembukaannya, saya kembali ingin membahas mengenai angkutan umum tersebut. Hah, Bis lagi?, iyah, mumpung sekarang bulan April. Kan, tiga belas hari lagi akan diperingat sebagai Hari Angkutan Umum Nasional, yang jatuh pada tanggal 24 April 2014 mendatang. Yak, agak terlalu dipaksakan sih, kalimat tadi. Gak apalah lah yah, lagi berusaha cari alasan saja.

*) Kiri Bis Ekonomi dan kanan Bis Patas (gambarnya gak modal yak, haha, stoknya itu saja)

Yah, kesempatan ini saya akan membahas perbedaan dari kedua kategori Bis tersebut. Perlu diketahui, rangkuman mengenai perbedaan ini dilihat dari kelebihan dan kekurang yang terdapat pada masing-masing kelas nantinya, dan semua itu murni hanya menurut sepengetahuan saya. Jadi belum bisa mewakili secara umum, hanya pendapat saya dari pengalaman pribadi selama menggunakan jasa transportasi ini. Sebagaimana berikut ini:

BIS EKONOMI
Kelebihannya:
  1. Tarif lebih murah/minimum.
  2. Fasilitas full musik dangdut. Kadang juga dilengkapi TV, yang diputarpun juga dangdut orkestra.
  3. Suasana lebih sosialis. Dikarenakan sebagian besar kalangan ada dan mereka saling bertegur sapa.
  4. Bebas merokok. Ini menjadi keuntungan bagi si perokok aktif.
  5. Apabila bangku terisi penuh, kru Bis akan tetap menaikkan penumpan lainnya, selama masih ada ruang untuk berdiri di barisan tengah. Jadi, bagi penumpang yang membutuhkannya, masih tetap bisa ikut di dalamnya.
Kekurangannya:
  1. Tanpa pendingin AC. Untuk pendinginnya hanya mengandalan udara dari jendela kecil di samping atas.
  2. Panas dan pengap. Terutama pada saat arus mudik berlangsung. Karena Bis mudah penuh dan jumlah penumpang (dipaksakan) semakin sesak di dalamnya. (poin kelima sebelumnya, red)
  3. Jarak antar tempat duduk sempit. Sehingga ruang gerak menjadi terbatasi.
  4. Kursi duduk fixed. Tinggi-rendahnya tidak dapat disesuaikan. Tidak ada tempat untuk menyenderkan tangan. Posisi untuk tiga dudukan pada baris sebelah kanan malah menjadi satu, seperti sofa.
  5. Jika melewati kontur jalan yang kurang mulus. Bis rentan menimbulkan getaran dan goncangan. Berkaitan dengan kondisi fisik Bis yang mempengarui hal tersebut.
  6. Aroma bikin pusing kepala. Campur aduk, antara bau oli dan gesekan mesin.
BIS PATAS
Kelebihannya:
  1. Dilengkapi fasilitas penunjang, seperti AC, televisi, speaker aktif.
  2. Terdapat tempat menaruk botol minuman atau dokumen di setiap belakang kursi duduk (untuk penumpang di belakangnya). Pada masing-masing sisi tempat duduknya sudah dilengkapi dengan pegangan tangan.
  3. Kursi duduk bisa diatur sesuai kenyamanan penumpang (reclining  seat). Cukup menarik tuas di samping kursi masing-masing, untuk mengatur tinggi-rendah kursi duduknya.
  4. Tidak ada desakan penumpakan di dalam Bis. Karena jatah penumpang hanya berdasar kuota kursi duduk. Tidak melebihi dan menambah penumpang selama kursi duduk terisi semua.
  5. Udara lebih bersih, bebas dari polusi asap rokok. Menjadi keuntungan bagi mereka perokok pasif yang memperhatikan akan kesehatannya.
  6. Beberapa titik dilengkapi pengharum. Ada yang digantung, ada pula yang memasang alat pengharum ruangan otomatis.
  7. Melewati kontur jalan kurang mulus tidak begitu terasa, laju Bis tetap stabil.
Kekurangannya:
  1. Tarif lebih mahal. Tapi sebanding dengan fasilitas yang didapat, berikut kenyamanan di dalamnya (ini kekurangan apa kelebihan, yah?).
  2. Tidak diperbolehkan merokok dalam Bis. Bagi perokok aktif, ini menjadi penilaian minus. Bahkan, penumpang bisa jadi beralih ke Bis Ekomoni.
  3. Rendahnya rasa kebersamaan dan kurangnya interaksi antar penumpang.
  4. Sepi, sunyi. Suara hanya berasal dari acara televisi. Penumpangnya cenderung sibuk sendiri dalam melakukan aktivitasnya masing-masing.
Kurang lebih itu yang saya dapat selama menjadi penumpang Bis. Mungkin teman-teman ingin mengoreksi, monggo. Atau bahkan ingin menambahkan?, dipersilahkan juga. Jika diperhatikan, sekarang ini juga ada beberapa Bis Ekonomi yang telah dilengkapi dengan fasilitas Air Conditioning (AC), yang disebut dengan Bis ATB (Ac Tarif Biasa). Biasanya terdapat stiker besar sebagai penandanya.

Mengenai standarisasi kelas dalam pelayanan bus umum, telah tertuang dalam keputusan bernomor SK.1131/AJ.003/DRJD/2003, tentang Petunjuk Teknis Standar Fasilitas Pelayanan Angkutan Antar Kota. Penetapannya sudah sejak 02 Juli 2003, melalui Dirjen Perhubungan Darat. Pembagian kelasnya pun lebih luas dengan keseluruhan terdapat lima kategori kelas, yakni:
  1. Kelas Ekonomi
  2. Kelas Bisnis RS
  3. Kelas Bisnis AC
  4. Kelas Eksekutif
  5. Kelas Super Eksekutif
Semua kelas memiliki karakteristik sendiri-sendiri. Harga tidak menipu, sesuai fasilitas yang didapat. Eh tapi, sesuai kalimat di alinea pertama, yang saya bahas dari kelas yang sering dijumpai. Jadi dua saja, hhehe. Kalau kelima tadi, wah, saya juga belum pernah merasakan semuanya. Jadi gak punya bahan dan pengalaman secara langsung, hehe. Eh tapi, tetap, judulnya kurang tepat yak, hha. Kadung :D.

Informasi mengenai tarif:
Barangkali ada yang ingin berkunjung ke Kabupaten Sumenep. Sekalian, saya informasikan tarifnya. Untuk Bis Ekonomi jurusan Sumenep ke Surabaya, Rp. 40.000,-. Sedangkan Patas Rp. 53.000,-. Semua mengalami kenaikan menjelang Hari Raya kemarin. Saya pikir harga hanya berlaku waktu mudik saja. Tapi ternyata setelah itu tetap segitu. Dari yang sebelumnya Rp. 37.000,- tarif Bis Ekonomi dan Rp. 43.000,- untuk Bis Patas.

Sedangkan jurusan Surabaya ke Malang sebesar Rp. 15.000,- tarif Bis Ekonomi, dan Rp. 23.000,- untuk Bis Patas. Pun juga mengalami kenaikan, bahkan lebih cepat sebelum adanya kenaikan harga BBM, tarifnya sudah merangkak naik. Dari yang sebelumnya Rp. 13.000,- untuk Bis Ekonomi dan Bis Patas sebesar Rp. 20.000,-. Kalau tidak salah, apa bulan Maret atau April tahun lalu yah, lupa, hehe.

Masih awal-awalnya saya kuliah di Malang, tahun 2010. Dulu malah tarif Bis Ekonomi jurusan Surabaya ke Malang, sejumlah Rp. 7.000,-. Sementara untuk Bis Patas dengan jurusan yang sama atau sebaliknya, Rp. 15.000,-. Sekarang pada naik semua. sudah menjadi tuntutan, apalagi semenjak kenaikan BBM. Sebagian besar harga semakin merangkat naik.

Kenapa saya lebih memprioritaskan Patas?
Secara dangkal sudah dapat disimpulkan. Eng, bukan apa-apa yah, saya memilih menggunakan Bis Patas untuk perjalanan jauh. Tapi lebih kepada faktor kenyamanan. Mengingat saya akan melalui perjalanan yang memakan waktu tempuh kira-kira 3½ jam lebih, itupun untuk sampai terminal Bungurasih saja. Setelah itu oper ke Bis jurusan Surabaya – Malang (± 2 jam-an), atau sebaliknya.

Bukan karena tidak mau menghemat. Memang ini berkaitan erat dengan biaya yang dikeluarkan. Tapi saya lebih memilih untuk menyisihkan lebih sedikit saja untuk memperoleh fasilitas yang ada. Lagi pula saya menggunakan angkutan ini tidak setiap hari, atau setiap minggunya. Tidak. Berbeda lagi kalau saya naik Bis dalam jeda waktu sedekat itu. Tentu, saya akan mempertimbangkan ulang memilih Bis Patas.

Sejauh ini, saya tidak begitu fanatik. Bis Ekonomi juga sering saya gunakan. Terutama perjalanan dari Terminal Bungurasih ke Sumenep. Bis Patas adanya di waktu-waktu tertentu. Yang lebih banyak siap berangkat, yah Bis Ekonomi. Saya tetap memilih menaikinya kok. Oleh karena itu, saya bisa menarik ulasan dari kekurangan dan kelebihannya. Dan itu tidak saya peroleh dalam sekali keberangkatan, melainkan berulang kali. Semua meninggalkan pengalam dalam hidup saya.

Saya berharap tidak meninggalkan kesan provokatif. Karena, perbandingan yang saya buat hanya untuk menggambarkan realitas yang ada di lapangan. Bukan bermaksud memprovokasi penumpang supaya berlaih ke kelas yang berbeda atau sebaliknya. Sesuatunya pasti memiliki kekurangan dan kelebihan, itu lumrah. Setiap penumpang memiliki alasan dan berhak menemtukan apa yang menjadi pilihannya. Iyah, pada akhirnya semua kembali lagi kepada diri masing-masing penumpang.


Richo A. Nogroho
Malang, 11 April 2014
Hai, sudah baca yang ini?

68 Komentar. Tambahkan juga komentarmu »

  1. saya udah pernah naik bis keduanya gan, beda emang rasanya.. hihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, kerasa sekali yah. sesuai dengan apa yang di keluarkan :D

      Hapus
    2. beda harga beda kualitas :p

      Hapus
    3. Yup, setuju, pokoknya harga yang berbicara :D

      Hapus
  2. yap,,betul. Kalau saya pribadi kalau ada uang lebih naik bis patas, kalau uangnya tinggal dikit atau pas-pasan di dompet ya bis ekonomi,,jadi tergantung ada nggaknya uang,,,hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dipersiapkan jauh hari untuk kepulangan itu, mbak. kalau gak mencukupi dikondisikan, nanti sampai juga, hehe. tinggal dinikmati tiduran saja. angin alamai dari luar seger :D

      Hapus
  3. Untuk perjalanan jauh (pake banget), lebih memilih bus patas. Tapi kalau keuangan lagi harus hemat ya ekonomi saja. Contohnya kemarin (dan nanti siang), saya bakal naik bus ekonomi lagi... :D. Kalau diburu waktu ya gitu, susahnya kalau harus dikit2 berhenti & ngetem...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kerasa soalnya yah, mbak, hhehe. selama gak memaksakan yah, disesuaikan dengan kondisi dompet. wah, mau melakukan perjalanan ke mana, mbak?. semoga lancar yah, dan selamat sampai tujuan. biasanya ditiap terminal yang agak lama :D

      Hapus
  4. wah saya udah lama gk naik bis, soalnya saya tinggal di kalimantan :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, gitu. di sana masih banyak perahu yah, bang?. menyusuri sungai-sungai pasti seru. sambil macing juga sekalian, hhehe.

      Hapus
  5. Saya baru tahu ada hari angkutan umum 24 april. Kalau antara patas dan ekonomi pas jalan macet sama saja.. Tapi enaknya patas enggak ada penjual dan pengamen. Tapi tarifnya nukik dibanding ekonomi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, saya juga baru ngeh kemarin mbak :D. terbantunya udaranya adem yang Patas, mbak. di Ekonomi bisa keringatan kalau kejebak macet. tadinya mau berikan plus minus yang itu, tapi yang saya temui di Bungurasi juga ada mereka yang masuk di Patas, mbak. ada yang selisih gak seberapa, tapi ada yang hampir dua kali lipatnya.

      Hapus
  6. saya ga pernah naik dua duanya :v hihiii kebiasaan naik angkot :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sekali belum pernah, mbak?, wah, lebih banyak angkot, atau nggak kendaraan pribadi yah. he.

      Hapus
  7. Saya juga sudah mencoba kedua jenis bis ini, maklum anak rantau juga.
    ternyata ada hari angkutan umum nasional ya, informasi baru buat saya *malu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wihi, kita senasib, anak rantauan juga yah. tooossss :D.
      Hehe, iyah ternyata ada, saya juga baru tahu kemarinnya, hhehe.

      Hapus
  8. Kalo di sini bis Patas itu namanya Bus Volvo, Bang.. Tapi bedanya, yang di sebelah kiri cuma ada satu bangku, di sebelah kanan ada 2 bangku.. Biasa bilangnya 21 gitu. Heheh..

    Termasuk murah biayanya ya, Bang?
    Berhubung di sini kan jauh mau ke luar provinsi, butuh waktu 16 jam baru sampe. Makanya tiket bus biasa tetep aja 170rb.. Kalo bus volvo 210rb.. Beda tipis sama naik pesawat sih kalo promo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ow gitu, Bus Volvo, saya baru tahu sekarang, mbak, hhe. satu saja?, jadi formasinya gak dua-dua yah, mbak. kalau di sini, dua-dua. nah untuk Ekonominya, dua (kiri) dan tiga (kanan). nyebutnya seperti bioskop jadinya yah, hihi.

      Kalau perbandingan harga, menurut saya gak terlalu jauh, mbak. tapi kalau naik sering-sering kerasa :D. wua, 16 jam kebayang jauh sekaliiiii. pantasan jadi selangit gitu harganya, mbak. rutenya jauuuh. itu dapat makan, kan?.

      Hapus
    2. Yang bangku 22 biasanya bus biasa..
      Sampe 3 ya? Kayak di pesawat.. :D

      Iya, terakhir kali naik bus volvo ya januari kemaren waktu ke Pekanbaru. Uda tepos aja rasanya. Hahah.. Dikasih roti sama sebotol air mineral. Ada pemberhentiannya di rumah makan padang tapi ya bayar sendiri donk:)

      Hapus
    3. Ow, di sini Patas kalau itu.
      Eng, iyah deh, soalnya belum pernah naik pesawat, haha *ndeso :D

      Perjalan ke Pekanbaru, hehe lumayan lama, gimana gak tepos, hihihi. jadi cuma dapat roti dan minum saja yah, mbak. lah, tak kira berhenti dapat makan plasmanan gitu. biasanya kan berhenti di lokasi yang memang sering menjadi tempat pemberhentian, titik-titik tertentu untuk makan.

      Hapus
    4. Heheh.. Aku juga baru-baru aja kok Bang, naik pesawatnya :p

      Iya. Roti itu kan cemilan, bukan jadi makanan utama. Wkwkwk.. :D
      Tetep laper lah. Akhirnya kalap trus pesen gulai tunjang deh

      Hapus
    5. Lah gitu kok gak ngajak-ngajak atuh, mbak. ehehe *kejar-kejaran sama Kuro

      Untuk ganjel saja yah, hihi. woo, gulai tunjang, ah belum pernah makaaan, hhaha. aroma rempah dari kuahnya sedap yah? *ngiler :D

      Hapus
    6. Ayok. Kapan ke mana? Ahahah :D

      Belom pernah makan? Enak looo gulai tunjang iniiih..
      Otot kaki lembu digulai trus makan pake nasi hangat. Amboi.. Lamak nian do :p

      Hapus
    7. Berangkaaaat, ke mana saja, asal sama-sama. hahaha *ngajak Kuro :D

      Belum pernah, mbak. wua, wua, kok makin bikin ngiler saja. ah, garai pengeeeeen. ambo kepengen beud pakai bingit, eh ini mah alay yah :D

      Hapus
    8. Oh jadi Kuro toh yang diajak? :D
      Ya uda deh, titip seminggu yaaa.. Aku mau traveling ke Sabang duluuu :p

      Emangnya di sana ngga ada rumah makan Padang ya, Bang?
      Biasanya disajiin kok kalo makan di sono. :)

      Hapus
    9. Iyah, harus ada si Kuro, mbak. hhaha.
      jangankan seMinggu, sehari ok-ok saja. *makin dikit yak :D

      Ada, banyaak, cuman menu itu belum pernah nyoba. mau traktir?, ayuk, aku mau, hhaha :P

      Hapus
  9. Di temapt saya sekarang (Yaman), saya tidak bisa membedakan, mana yang bus ekonomi dan mana yang kelas bisnis. Hampir semuanya memprihatinkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, mas Lutfi. selalu membawa cerita dari Yaman :). susah menbedakan dan memprihatinkan?, sarana Bisnya apa yang mas maksud yah?. antar kelas jadi hampir sama yah, mas.

      Hapus
    2. Maksudnya, di sini sepertinya tidak ada pengelompokan jenis bus.

      Hapus
    3. Oh gak dibedakan, antara Bis Ekonomi, Patas, dan seterusnya yah, mas. tarifnya beda apa sama rata?

      Hapus
  10. Tergantung jarak dan keadaan ekonomi untuk milih pakai bus ekonomi atau patas si cho...kdng enak jg soalnya pake bus ekonomi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, mbak. kalau jarak jauh butuh kenyamanan, dan pertimbangan dari kantong juga. kalau lagi seret ya Ekonomipun jadi. kalau saya mempersiapkan atau nyisihkan selagi pegang uang lebih, mbak. sensasinya dan keramaiannya lebih asik Ekonomi yah, mbak Puteri :)

      Hapus
  11. saya baru tahu kalau tanggal 24 April 2014 adalah hari angkutan umum nasional.

    sebagai masyarakat, yang paling terpenting adalah kenyamanan pelayanan dan kenyamanan angkutannya sendiri.
    semahal apaun itu kalau kita mendapatkan kenyamanan kan menjadikan kepuasan untuk penumpang sendiri.

    kok tahu tarif? pasti calo ya? ngaku?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Agak maksa alasan saya tadi, haha. tapi memang kebetulan ada bulan ini, mas :D

      Faktor kenyamanan berbanding lurus dengan harga yang dikeluarkan. hanya ada kondisi tertentu yang memilih Ekonomi dan Patas.

      Haha, calo?, kok tahu, ah jadi malu saya, huhahaha. bukannya tiket atau pembayaran Bis dilakukan pada saat perjalanan berlangsung, mas. kecuali perjalanan jauh dan berupa rombongan. jadi tanpa melalui perantara pihak ketiga. *calonya ngeles :D

      Hapus
  12. sepakat dgn saran mamanya nih, aku dann suami kalau pas lagi berlibur di kampung sana selalu menggunakan travel :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, cari suasana yang berkesan kalau nai Bis, mbak, hohoho. wah, begitu. lebih efektif yah, mbak El :)

      Hapus
  13. Di makassar, bus hanya digunakan untuk bepergian jarak jauh seperti pulang kampung saat harihari tertentu. Setahu saya di Makassar, sekarang tidak ada istilah bus patas atau ekonomi, karena semua sudah menggunakan AC. Dulu sih ada yang pakai ada yang tidak dan harganya berbeda 20% lebih mahal yang berAC dibanding yang tidak. Harganya juga relatif terjangkau. Saya pribadi lebih suka kalau busnya tidak ber AC, jadi semenjak semua berAC, saya memilih menggunakan motor saja untuk pulang ke kampung.

    salam kenal mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, sekarang mayoritas Bis di sana sudah dilengkapi AC yah, mas. Dari harga tidak begitu jauh, kalau saya karena nempuh perjalanan agak jauh, jadi lebih sering menggunakan yang patas, mas. Kalau motor, kendala di saya sendiri, gak ngerti jalan, hihihi. Terima kasih sudah berbagi cerita, mas. Salam kenal balik :)

      Hapus
  14. Intinya kalau di bis itu ada kualitas maka ada harga. Bis patas yang memiliki fasilitas berkelas harus dibayar dengan harga mahal, begitu pun dengan sebaliknya, bis ekonomi yang fasilitasnya seadanya harus dibayar dengan harga yang tidak terlalu mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. perahu ekonomi juga ada, gampang klelep tapi.

      Hapus
    2. Benar, harga yang dibayar sudah termasuk fasilitas di dalamnya. memang sesuai dengan harga. sekarang tinggal bagaimana calon penumpang menentukan pilihannya dengan berbagai pertimbangan :)

      Hapus
    3. @ Zachflazz: Wah, serem juga kalau gitu, mas. hhehe.

      Hapus
  15. dulu jaman sering mbolang, saya suka naik bis ekonomi kemana saja. murah dan ramai. hehe.. kalo pasat, malah sepi dan serem jadinya. kalo sekarang sih udah jarang naik bus. paling2 busway sama metromini/kopaja. masih seru juga sih. terutama kalo ada copet, ikut nggebukin kayaknya asyik, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelebihan ekenomi yah, suasana yang menyenangnya mendengar obrolan kanan-kiri, tawa penumpang yang lepas. kalau patas gak akan dapat gituan, hhehe. saya belum pernah naik busway, mas. di sini belum ada, hihi. wah, asalkan jangan sampai jadi korbannya yak :D

      Hapus
  16. kalo bis ekonomi masih suka ada pengamen punk yang masuk kak, serem.. kalo patas kan gak boleh masuk..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kecendrungan begitu, mbak. tapi yang saya termui juga ada di patas, tapi pada saat ngetem di terminalnya. mangkanya saya tidak memberi kondisi itu di atas.

      Hapus
  17. Ndak suka naik bis, bikin mabuk :D Lebih suka kereta :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, awalnya saya juga gitu, mas. tapi keseringan naik jadi terbiasa. wah, saya pernah sekali, eh dua kali sama ppnya, hhaha. tapi enak kalau dapat kursi duduk yang searah mas, gak enaknya kalau berlawanan, bikin mata sliwer pusing :D

      Hapus
  18. Kalau dituntut untuk naik bis setiap hari ke tempat kerja, maka saya lebih memilih naik ekonomi. Kalau ditotal selama sebulan, maka penghematannya lumayan banget dibanding naik patas. Tapi kalau cuma naik bus sesekali ke mana gitu, naik patas nggak apa-apa, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, setuju. saya mempertimbangkan gitu juga. kalau sering bikin jebol dompet juga, hhaha. bisa kerasa kena ongkos perjalanannya. tapi kalau rentannya tidak begitu sering, yah cari kenyamkanan saja, hhe. :D

      Hapus
  19. masing2 ada kelebihan dan kekurangan ya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti itu adanya, mas. dari apa yang saya dapat selama menggunakan jasa transportasi ini :)

      Hapus
  20. Kalo naiknya cuma deket kayanxa rugi kalo naik bis patas. Soalnya mahal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dekat dipertimbangkan lagi, mas. naik Ekonomi kalau dekat, sama saja gak terasa, apalagi dekat dan bisa sambil tiduran :D

      Hapus
  21. bagus informasinya, thanks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Puji syukur, kalau begitu :) *curhat, hhehe.

      Hapus
  22. Saya jarang naik bus sih, tapi kalau saya lebih milih bus patas ketimbang ekonomi. Mungkin karena ada AC itu lohh hehe :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jarang melakukan perjanan pakai Bis yah, mbak. hehehe, enak yah, adem. gak ada gerahnya sedikitpun. yang ada bisa kedinginan, hihi.

      Hapus
  23. kalo ane sih tergantung jarak nya, misal mo pergi ke jkt ane pake ekonomi, biar bisa ngerokok.. pernah sekali naik Kelas Eksekutif, smg-jkt 250rb, kursinya 2 2 nyaman gak berdebu, tapi ya gitu, kalo merokok harus bolak-balik di ruang toilet :3

    kalo cuma antar kota sih mending pake yg AC, biasanya gak berhenti sembarang tempat dan gak ada pengamen.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh jadi bagi perokok yang jauh akan memilih Bis Ekonomo yah. boleh juga alasannya, biar bisa merokok, hhehe. wah, malah jadi kendala tersendiri yah, mas. iyah juga yah, susah dan bikin repot, hehe.

      Kalau ngetem yang saya alami memang kecendrungan seperti itu, mas. tapi kalau ngetem di terminal, patas masih disamperi oleh pengamen. hehe.

      Hapus
  24. Dari segi harga saja sudah jelas berbeda,,, dan dari segi kenyamanan juga pasti berbeda namun anehnya saya pernah naik bis kelas bisnis atau eksekutif ko masalah penumpang udah tau bangku udah penuh masih saja di masuk masukin, pake bangku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar, ada harga ada fasilitas. wah, kok begitu yah, mas. mungkin adanya pembiaran oleh kru Bisnya. tetap memaksa naik meski penuh. menjadi keuntungan mereka sendiri menambah pemasukan dari mereka. hihihihi.

      Hapus
  25. Gw milih patas aja, biar nyaman bisa tidur dan ternyata dah 5th lebih ngak naik bus hehehe. Terakhir 2009 waktu ke karimun jawa, naik bus dari jakarta ke jepara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tidur bisa nyenyak, dingin gak pengap yah, mas. hhehe. wadu, lama juga, hehe. sekarang sudah naik mobil pribadi sih, yah. hhehe.

      Hapus
  26. kalau pulang saya nggak mikir ini bis ekonomi atau apa, tinggal nyetop di jalan yang penting bisa nyame rumah. Soalnya itu lebih murah daripada kita harus pergi ke agen resminya. (baca: penumpang gelap. hehe)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya gitu, yang penting asal selamat yah, mas. hehe. yang dipertimbangkan kalau perjalan jauh itu, hoohoho.

      Hapus
  27. Saya pernah kena calo dinaikin bus patas, cepet sih Mas, wuzz...wuzzz...tapi uang dalam dompet juga lebih wuzzzzzz..... haha

    BalasHapus
  28. haaa,, saya jadi sempat tertawa waktu baca class bis patas suara sunyi asik aktifitas sendiri,
    klo di di Aceh class tertinggi bus adalah "Nonstop" seat 1-2 Scania K 410 IB Putra Pelangi Perkasa
    itu bus tercepat,

    BalasHapus