Lebih baik bayar kos di akhir bulan #2

Dalam peraturan tertulis memang sudah jelas. Bahwasanya pembayaran sewa kos harus tepat tanggal jatuh tempo, atau sekurang-kurangnya tiga hari setelah tanggal jatuh tempo. Begitu juga dengan informasi tanggal jatuh tempo untuk masing-masing kamar yang terpampang di dekatnya. Kedua peritingatan tersebut, semakin memaknai akan keharusan melunasi tepat waktu.
“Postingan ini kelanjutan dari cerita sebelumnya. Barangkali ada yang belum baca?, banyaaaaaak. Yah, bagi yang belum baca, bisa intip di Lebih baik bayar kos di akhir bulan #1. Biar terhindar dari lompatan cerita dan semakin nyambung ceritanya. Hhaha, kasarannya biar dibaca :D. * ah, lupakan!.”
Saya berusaha melakukan pembayaran sesuai tanggal jatuh tempo. Tapi kok saya perhatikan penerapannya tidak sesuai dengan isi peraturannya yah?. Terbukti dari kesaksian salah satu teman kosan saya. Yang mana dia membayar uang kosnya melebihi batas akhir dan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Tetap saja, tidak ada pengusiran ataupun tegoran keras.

Bisa disimpulkan, itu hanya sebagai formalitas saja. Iyah, awal kemunculannya memang mengagetkan kami semua. Tapi seiring berjalannya waktu, semua yang tertulis tidak benar-benar serius ditegakkan. Akhirnya ketika tahun kemarin mudik lebaran, saya tuk pertama kalinya melakukan pembayaran melebihi batas toleransi. Eng, bukan melebihi lagi yah, tapi sudah keterlaluan ini mah, hhaha. 

 *) Bisa dilihat dari Rekapan pengeluaran saya, pada bulan Agustus nol rupiah.

Selama bulan Juli sebenarnya juga banyak di rumah. Karena pada bulan itu mata kuliah yang saya ingin tempuh tidak ada yang nongol. Jadi terpaksa ngabiskan waktu di rumah sambil nunggu jadwal berikutnya. Hanya saja di akhir bulan Juli atau awal-awal puasa, saya sempat ke Malang selama empat hari. Iyah, ada janji untuk buka bersama dengan anak-anak Matras. Selain itu, kesempatan beli kebutuhan lebaran, alah *OOT *sering yak.

Jadi, selama sebulan penuh berada di rumah, saya tidak pernah sekalipun basa-basi untuk menunda pembayaran. Tetap khawatir sih, apalagi kalau tiba-tiba barang saya dipindahkan ke ruangan depan, dan kamar sudah diserahkan ke penghuni lain. Meski dalam hati sebenarnya agak was-was. Ah tapi, nekat sajalah.  Soalnya kalau mengaca pada kasus teman saya tadi, jadinya agak tenang. Hhehe.

Sekembalinya saya ke kosan, tanggal 19 September 2013. Puji syukur, barang-barang saya tetap berada di kamar. Semua utuh, alhamdulillah. Cuman, ada beberapa yang berpindah posisi. Sehubungan dengan pemasangan sekring mini di setiap kamarnya. Hua, listrinya dijatah braii, per kamar pula. Okelah, seenggaknya saya tetap resmi sebagai pemiliki kamar nomer 14, yuhuuu. Padahal setelah itu jadi kepikiran pembatasan listrik. Huhaha. *gigit kabel

Kemudian, selarang beberapa waktu dari kedatangan saya di kosan. Saya baru ngeh loh, bagi yang melakukan pembayaran melenceng dari waktu yang ditetapkan, itu ternyata uang kosnya ditalangi atau sementara dibayari oleh Pak Mukhlis. Pantas saja, pada saat saya bayar ke beliau dengan mengatakan “Maaf, Pak. Saya bayarnya telat, baru pulang mudik.”, jawab beliau apa coba? “Oh iyaah, nggak apa-apaaa, santai saja!”.

Yah tuhan, jadi kesan adanya pembiaran dan tidak diterapkannya peraturan itu, bukan lantaran tidak berlaku. Ternyata beliaulah di balik semua ini. Padahal menurut teman saya, kalau pihak pemilik tetap kekeh kalau sewa setiap kamarnya harus dibayar tepat waktu. Jadi, langkah yang diambil Pak Mukhlis semua untuk menghindari tuntutan kepada penghuni kos. Sehingga, uang kosan sementara waktu dibayarkan dulu oleh beliau. *matur nuwun sanget

Well, saya belum pernah menyinggung tentang beliau yah. Jadi Pak Mukhlis juga mendapat mandat untuk mengurus kosan ini. Beliau bersama istrinya sekaligus memiliki usaha laundry yang tempatnya menjadi satu dengan kosan, yaitu berada di bagian paling depan, dekat dengan gerbang. Orangnya tegas, tapi tetap ramah. Paling ngemong kepada kami semua. Sering negor dan menasehati apabila kami melakukan kesalahan. Pokoknya sudah seperti bapak kos (tiri) di sini. Ah, baru kali ini ada bapak kosan tiri :D.

Namun, ada kejanggalan yang saya temui. Terdapat pada kertas kwitansi, yang dijadikan sebagai bukti pembayaran kosan setiap bulannya. Itulah mengapa saya berpendapat “Lebih baik bayar kos di akhir bulan”. Dan, kejanggalan ini tak pernah saya temui sebelumnya -selama pengurus dipegang mas Zaki. Jika ada yang jeli, ini justeru menjadi peluang untuk mengambil keuntungan.

 
*) Beberapa bukti kwitansi pembayaran saya. 
Selain itu, ada yang saya tempel di styrofoam.

Nah, justeru yang menarik dari kwitansi bukti pembayaran yang dibuat oleh Pak Dhe. Kertas kwitansi yang digunakan tidak ada yang aneh. Informasi tertulis juga standar. Terdapat nama, jumlah uang kos yang dibayar, keperluan dan tanggal pembayarannya. Tapi, jika diperhatikan di balik kwitansinya juga tertulis masa berlakunya. Perhatikan kwitansi saya berikut ini:

 
*) Saya bayar ke Pak Mukhlis, tapi kemudian yang menyerahkan kwitansinya Pak Dhe. 
Dilihat dari tulisan belakangnya (pembeda mencolok dari huruf empatnya),
itu buatan beliau sendiri dan entah kenapa kok malah menambahkan itu yah.

Lihat, apa yang janggal dari kwitansi di atas?. Eem, bagi yang langsung baca cerita ini tanpa membaca yang sebelumnya, dijamin pasti bungung, hehe. Jadi saya ulang, kalau tanggal jatuh tempo untuk kamar kos saya, ialah setiap tanggal 02. Kenapa di balik kwitansinya ditambahi masa berlaku yang itu tidak sesuai dengan tanggal jatuh tempo yah?. Malah berakhirnya sesuai tanggal saya membayar. Hhehe.

Semestinya jikalau ingin menambahkan keterangan masa berlakunya, tentu tetap dihitung mulai dari 02 Februari 2014 sampai dengan 02 Maret 2014. Atau dalam perhitungan Akuntansi mundur sehari dari tanggal pertama boking. Lah, di sana tidak, malahan Pak Dhe seolah memberi bonus beberapa hari, dari ketetapan yang semestinya.

Kejadian berikutnyapun ternyata sama. Ketika saya kembali ke Malang pada tanggal 08 April 2014 (sudah lewat jatuh tempo dan toleransi yah, hhehe), saya sengaja tidak langsung bayar uang kos. Tapi malah semakin mengulur waktu pembayaran ke tanggal 10nya. Alasan lain, juga malas turun ke bawah. Ke luar kamar cuma pas beli makan saja:D. Ini dia bukti pembayarannya:

*) Selama Maret, saya mudik. Jadi bayarnya dua bulan sekaligus
untuk bulan Maret (bebas biaya listrik) dan April, yang masih dijalani sekarang.

Perhatikan lagi yah. Di balik kwitansi juga sama tertulis masa berlakunya loh. Lagi-lagi kecerobohan dilakukan oleh Pak Dhe. Entah disadari atau tidak, beliau kembali menuliskan masa berlaku sama dengan tanggal pembayarannya. Mengakibatkan jatah untuk bulan depan saya, bukan sampai tanggal 02 Mei, melainkan tanggal 10 Mei 2014. Hua, makin untung saya, kan?, hhehe. Bukankah, itu menjadi keuntungan bagi saya?. Ini akan menjadi celah semisal saya ingin berlaku curang.

Bagaimana mengambil keuntungannya?
Di saat saya ingin mengakhiri tinggal di kosan sini. Satu bulan sebelumnya, saya akan mengundur lebih lama lagi waktu pembayarannya. Misal, bayar di akhir bulan sekitar tanggal 28. Sehingga, pada bulan berikutnya jatah saya tinggal di kosan bukan sampai tanggal 02, melainkan mengacu pada bukti kwitansi, ialah tanggal 28. Tinggal dihitung saja berapa hari keuntungan saya berada di sana. Semakin telat bayarnya, semakin lama berada di kosan.

Ok, apakah menunda pembayaran akan mendapat kendala?
Pasti. Tapi ingat, batas pembayaran di sini nyatanya masih bisa dilampaui, kan?. Tinggal selanjutnya bagaimana memberikan alasan yang masuk akal, dan mengutarakannya dengan diiringi penyampaian yang sedikit memelas. Biar pihak pengurus jadi ibah dan mendapatkan keringanan. Hhaha. *akal licik semakin liar.

Awalnya saya gak merhatikan, lebih tepatnya gak menyadari kalau ada kejanggalan. Soalnya selama saya menerima bukti pembayaran, tidak pernah mendapatkan yang seperti ini. Dari pengurus yang masih dipegang mas Zaki, pun dengan kwitansi pembayaran yang dibuat oleh Pak Mukhlis. Semua tidak ada kejanggalan. 

*) Seperti ini, tidak ada keterangan sama sekali

Tapi entah yah, Pak Dhe kok malah berinisiatif menuliskan masa berlaku yang justeru bisa dimanfaatkan untuk berbuat curang. Saya kurang tahu teman-teman kos yang lain menyadari hal ini, atau tidak, atau mungkin cuek bebek. Tapi yang jelas, saya tentu tidak akan memanfaatkan kesempatan itu. Tidak akan. Mungkin suatu hari nanti, saya akan memberi tahu beliau untuk memperbaiki atau sekalian menyarankan agar tidak perlu lagi mencantumkan keterangan seperti itu.

Yah, begitulah celah di balik kwitansi pembayaan kosan saya. Memang sepele kasusnya, tapi itu bisa saja disalah gunakan. At least, ambil sisi positifnya saja yah. Kecurangannya jangan, toh hanya contoh saja. Mungkin ada yang bekerja di bagian proses pencatatan seperti di atas, atau semua yang berujung pada penagihan. Untuk lebih berhati-hati agar terhindar dari kecerobohan kecil yang semestinya tidak perlu terjadi.

 
Richo A. Nogroho 
Malang, 15 April 2014
Hai, sudah baca yang ini?

92 Komentar. Tambahkan juga komentarmu »

  1. Baik sekali Pakde itu, Bang.. :)
    Mungkin niatnya pengen ngebantu anak kos ya, karena ada peraturan dari pemilik kos yang memberatkan anak-anak kos. Tapi ya namanya nyari ilmu, masa sih ngga ditolong? Heheh.. Ya walaupun jadinya bisa menimbulkan kecurangan..

    Mending langsung dikasihtau aja Bang, takutnya si pemilik tau trus Pakde jadi bermasalah.. Kan kasian, beliau niat ngebantu malah kena masalah..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yang mbak maksud itu Pak Mukhlis yah. yang menalangi sementara uang kosan anak-anak. sepertinya begitu, mbak Beb. beliau gak tegaan meski pembaannya tegas. karena sering juga cerita waktu dia merantau di beberapa daerah. jadi dulunya pernah ngerasakan jadi anak perantauan juga, mangkanya empatinya tinggi, ehehe. sedangkan Pak Dhe yang bertindak agak ceroboh memang keterangan itu, hihi.

      Eng, iyah juga yah. kalau keduluan Pak Bambang tahu bisa kena semprto beliau. tapi beliau jarang sekali main di kosan. kalau ada komplain untuk perbaikan kos yang biasanya hadir, mbak.

      Hapus
    2. Ya ampun.. Kebiasaan iiih suka ngga teliti bacanya.. Jadi tengsin. Hihihi :p
      Iya Bang, maksud aku ya Pak Mukhlis ituh.. Ternyata beda sama Pakdhe, lain orang. Preeet.

      Hahah.. Mungkin karena rumahnya ngga di situ kali ya, jadi males ngunjungin. Biasanya kalo ibu-ibu malah lebih rewel

      Hapus
    3. Ahahaha, gak fokus baca tulisan semeraut saya yah, mbak Beb, nyehehehe.
      Haha, iyah beda. tapi sama-sama penanggungjawab kosan 114. cuma peran melakukan sesuatunya lebih menjadi tugas Pak Dhe. haha:P

      Iyah, entah di mana rumahnya, saya nggak tahu, hhaha. eh tapi, beliau main ke kosan tadi, mbak. ngobrol sama Pak Dhe dan Pak Mukhlis. aaah, ini pasti gegara mbak Beby, *kok nyalahkan :D :P. lah, kalau ibu kos, malah belum pernah berjumpa, sampai setahun lebih di sini, sekalipun gak pernah :D.

      Hapus
    4. Heheh.. Ngga kok Bang, emang lagi ngga konsen aja. :D

      Serius? Wkwkwk.. Tuh kaaan, diomongin di blog jadi dateng deh..
      Kalo anaknya Bu Kos ada ngga? Sapa tau cakep, Bang :p

      Hapus
    5. Hhaha, nggak, nggak salah lagi :D. banyak mikirin saya yah?, gak usah terlalu, mbak. saya baik-baik saja kok di sini. hanya masalah uang kos bisa diatasi *GR tinggat Kuro :D

      Seriusss, huaha, semoga saja gak baca ini, ehehe. tapi nggak ah, gak mungkin :D.
      Ada, ada, biasanya kalau ke sini main bola di lantai bawah. kalau ketemu saya, pasti dia ngajak main bola, oper-operan, hhaha. cakep dong, la cowok soalnya, hhaha. tapi masih kecil :P

      Hapus
    6. Bang Richo ke mana? Uda lama ngga ngeposting niiiihhh.. :(

      Hapus
    7. Halloo, mbak Beby, hai, hai. iyah kemarin mudik, mbak. selama di rumah hanya beberapa jam di awal kedatangan yang online, setelah itu tidak lagi. ini sekarang sudah di kos, tadi pagi sampai di Malang. alhamdulillah lancar :)

      Hapus
    8. Terima kasih, mbak :)

      Hapus
  2. hihihi lucu ya. bener tuh bisa dimanfaatin. tp janganlah.
    saya jaman nge kos dulu jg kadang2 telat. tapi yg bikin kuitansi tanggal berlakunya ya tetep. gak jd mundur gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha, kelewatan ngasik keterangannya. hehe, saya nggak akan melakukannya, mbak. nah itu dia, beliau masang masa berlakunya jadi sesuai tanggal bayar, hihi.

      Hapus
  3. Huahahaha... enggak jeli pakdenya... awalnya terkesan merugikan eh malah menguntungkan ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, iyah mbak Nunu. bermaksud detail mungkin, pakai acara pasang keterangan begituan, tapi malah ngasik celah :D

      Hapus
  4. Lebih baik begitu yah Richo bayarlah kos lebih awal agar
    Terbebas dari muka cemberut hahhah keren artikelnya Sob :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih cepat lebih baik, mas. ehehe. tapi sekalipun telat, masih diberi kelonggaran. asalkan kita memberi alasan di balik keterlambatan, insyaAllah masih dimaafkan :D. terima kasih, mas kunjungannya ;)

      Hapus
  5. wah kos annya besar juga ya mas
    sampe banyak gitu kamar2 nya :)

    oh ya mas..tampilan atau temple mobilenya pje yg standart aja
    soale agak berat kalo dibukanya via hp..
    mav ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berlantai tiga, mas. tapi paling atas hanya diperuntukkan untuk jemuran pakaian. balkon luas tanpa genteng. hanya sepersekian yang ada atapnya di bagian tengah-tengah. arah dari tangga lantai dua. dikhususkan untuk kos-kosan, mas. jadi kayak penginapan yang hanya da kamar-kamar :D.

      Oh begitu kah, mas?, saya sudah gak makai template asli, yang padahal responsive, tapi berhubung berat, saya aktifkan tampilan mobile untuk akses dari perangkat hp. milih yang tampilan dinamis, mas. soalnya lebih simple, kalau yang standar gak begitu sip wa, hihihi. mungkin awal membuka yang ada loadingnya itu, mas. jadi kesannya lama, gambarnya juga seolah ngeloading dulu. *ngeyel, hihihi. tapi makasih untuk masukannya, mas ;)

      Hapus
    2. Mas Budi, siapa yah, Om?

      Hapus
  6. Tuh kan..
    Pembahasan kwitansi pembayaran kosan saja bisa sepanjang ini.
    Sek, sebentar, saya baca dulu ya.. semoga bisa memahami.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walah...
      Ternyata membahas kekurangan sistem pembayaran kok toh..
      Oke, saya titip salam saja sama Pak Mukhlis.. Hahaha

      Hapus
    2. Wuaahaha, khilaf, mas :D.
      Lah, ini sudah tak pilah jadi dua bagian. sudah kayak sinetron bersambung saja. kalaupun ditayangkan limat menit berselang sudah ditegor KPI. *EH. hhaha.

      Hhaha, biasanya, mas. curhat, bahaha. iyah, ada celahnya :D.
      Oh iyah, iyah, insyaAllah kalau tidak lupa, saya sampaikan, hhaha.

      Hapus
    3. Eh mas, saya datang lagi..
      Ingin menanyakan, apa salam saya sudah disampaikan? Hehehe

      Hapus
    4. Hhaha, selamat datang kembali, mas :D
      Waa, iyah, gak kesampaian, mas. hihihi. maaf.

      Hapus
  7. nggak papaa, santai sajaaa.
    itu ungkapan yang datar dan biasa sebenarnya.
    tapi buat kita yang mendengar, rasanya jadi maknyess, dan jadi ayem di hati.
    hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lagi, uangkapan mana yang dimaksud Om?, hihihi. saya gak nyambung sendiri jadinya, hhehe. apa mungkin judul postingan ini, tah?, atau yang ..?, tiba-tiba saya jadi lola gini, hhehe.

      Hapus
  8. samaaaaa,,,aku juga pas kuliah dulu bayar kosnya pake kwitansi,,,biar nggak hilang biasanya aku tempel di sterofom yg nempel di dinding ala anak kuliah,,biar semua pada tau kalo aku udah bayar kos,,hahahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yiha, tos dulu, mbak. Tosss. hehe. saya juga yang baru langsung nempel di sana, mbak. huahaha, dipamerin yak. atau ngingatkan yang lain biar keingat belum bayar. bahahaha.

      Hapus
  9. peraturan di buat untuk di langgar, wkwkwwkwk

    kalo bayar kos perbulanya gede gak masalah tu om :v
    mayan kan bisa hemat.

    kalo ane sekarang lagi kontrak, nyewa 1 rumah diisi 10 orang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, kerap kali diartikan gitu :D
      Bayar kos gede/bulan gak masalah dan bisa menghemat?, hah?, maksudnya kalau biaya kosnya tidak gede yah, mas? :D.

      Enak tuh, kalau ditung jatohnya lebih murah. patungan rame-rame. saya pernah juga, mas. tahun kedua kuliah, selama setahun ngontrak bersama lima teman kelas. ehehe.

      Hapus
  10. ada kuitansinya juga ya, pengelola kost profesional :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, mas, hhehe. enak, sebagai bukti terjadinya pembayaran. buat pengelola dan anak kos sendiri jadi punya bukti :D

      Hapus
  11. Demikian heroiknya hidup di kos-kosan sampai harus manage keuangan. Oya sy sdh follow this blog... Salam blogger newbie...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhaha, belajar membukukan setiap pengeluaran, nanti barangkali lebih luas ruang lingkupnya, haha. wah, makasih yah, mas. salam juga, saya yang newbie :D

      Hapus
  12. Jadi, bayar kos di akhir bulan ya cho,bhahhaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lihat dari keuntungan enakan gitu, mbak. hhaha. tapi saya tetap ngusahakan bayar tepat waktu, sesuaikan dengan kiriman juga. jhahaha.

      Hapus
  13. wkwkwk, ada kesempatan dong jadinya :p
    itu berarti pakde-nya yg kurang 'ngeh' sama peraturan yg ditetapkan pengurus sebelumnya yah..
    hhi, kasian juga sik tapinya --v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iyah ada celah buat berlaku curang, hhehe.
      Sepertinya begitu, mbak. kesalahan kalau menerapkan keterangan itu, jadi rugi ke kosan itu sendiri. gak akan saya manfaatkan kok, mbak :D

      Hapus
  14. Sebaiknya sih memang diberitahukan aja, supaya Pak Dhe menyadarinya dan kesempatan untuk berbuat curang itu tertutup sepenuhnya, hehe....

    BalasHapus
    Balasan
    1. @Mas Adit: Iyah, mas, insyaAllah akan saya sampaikan ke beliau. hehe, anak-anak paling gak banyak atau mungkin gak ngeh, mas :D

      Hapus
    2. @Mbak Ely: Hehehe, ok, mbak ;)

      Hapus
  15. Ngekos ya. Wew inget waktu masih kuliah.. Yang penting hepi seng mbayar bpknya kan. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah, ngekos, hehe. wah, gitu, tosss deh :D. hehe, dinikmati yah, mas. selagi jadi tanggungan orang tua :D

      Hapus
  16. makin mundur bayarnya makin mundur jg masa berlakunya..hihi...seneng bgt tuh ya anak kos yg emang sengaja nakal :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhaha, iya adanya begitu, mbak. haha, kalau dimanfaatkan enak yang curang, ehehehe.

      Hapus
  17. Jaman masih jadi anak kost dulu, memang sering yang namanya bayar uang kost dengan berbagai sebab. Kekhawatiran barang-barang ditaruh di luar kamar menjadi momok yang menakutkan! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman juga yah, mas. hihihi. biasanya yang paling umum dari kiriman, hhahaha. kalau itu sepertinya tidak sampai akan terjadi, mas. kemungkinan buruknya saja, tapi gak mungkin digitukan juga di sini :D

      Hapus
  18. Iya sih, kalo ada yang niat jahat bisa aja dimanfaatin.
    Mungkin mas bro baiknya kasih tau si Pakdhe aja, hihihi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, bisa, mas. nambah masa berlaku :D. iyah, suatu waktu akan saya beritahu beliau, mas. saya masih mudik, lagi :D

      Hapus
  19. Boleh juga tu berbuat kebaikan sedikit, dengan menanyakan langsung ke Pakdhenya, kenapa bisa begitu.

    Siapa tau lupa atau bingung, Kalau memang sengaja berarti Pakdhenya niat membantu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mas, ingin tahu tanggapannya beliau. dan biar gak disalah gunakan juga. saya pastikan dulu apa yang melatarbelakangi itu :)

      Hapus
  20. Hahahaha ... masih ada tuch kost yg di pake kwitansi macam gitu ???? Jadi inget jaman kuliah dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha, ada mas, ituuuu :D
      Haha, ngekos banyak cerita yah, menyenangkan berikut dengan suka dukanya :D

      Hapus
    2. Dulu gw kost ngak begitu akrab ama penghuni, males kebanyakan ngobrol hehehe. Biasa nya pulang masuk kamar ridur. Kalo main paling ama temen kost yg di ujung gang alias bukan 1 rumah hehehe

      Hapus
    3. Dulu gw kost ngak begitu akrab ama penghuni, males kebanyakan ngobrol hehehe. Biasa nya pulang masuk kamar ridur. Kalo main paling ama temen kost yg di ujung gang alias bukan 1 rumah hehehe

      Hapus
    4. Wah gitu yah, mas. hhehe. apalagi kalau ngobrolnya gak jelas, dan hanya mutar-mutar. ada di kosan saya, mas, dia (maaf) agak sok orangnya. omongannya tinggi, nyatanya kalau kita ngerti yang diomongkan gak gitu-gitu amat :D

      Hapus
  21. Assalaamu'alaikum wr.wb, Richo...

    Kunjungan balas dan maaf baru mampir.
    Ternyata susah jadi pemilik kos (rumah sewa) kerana selalu berehadapan dengan masalah sebegini. Apapun, yang pentingnya jujur kerana kita sudah diberi kemudahan untuk tinggal di sana.

    Salam kenal dari Sarikei, Sarawak. :D
    SITI FATIMAH AHMAD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikumsalam Wr. Wb, Bunda :)

      Hehe, terima kasih atas kunjungannya, Bun.
      Kalau tidak jeli bisa merugikan, Bun. namanya penghuni banyak cara untuk berulah dan mencari alasan, jadi harus pintar nyiasati, hihi. iyah, banyak yang membuatnya nyaman tinggal di sini :)

      Salam kenal kembali dari Sumenep, dan sekarang lagi di Malang, Bun, hehe.

      Hapus
  22. orang baik jangan di curangi Mas, kasihan. untungnya yang punya blog baik hati dan rajin menabung.
    saya jadi inget dulu pas kost, yang punya kost juga baik banget lho sama saya. kalau belum punya uang untuk bayar juga dapet kelonggaran.
    kalau dipikir, ternyata masih banyak kan orang-orang baik di sekitaran kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya, insyaAllah saya tidak akan curang, mas. huhahaha, mas ada-ada saja wa :D
      Wuah begitu yah, mas. enak yah, mereka juga mengerti kebutuhan kita sebagai mahasiswa yang gak hanya menghabiskan uang untuk hidup di perantauan, juga untuk keperluan kuliah yang banyak memerlukan biaya. benar, mas, banyak sekali dan bersyukur untuk itu :)

      Hapus
  23. Simak kembali Mas Richo, tentang bayar kost
    Jadi ke ingetan jaman kuliah dulu Mas mkasih sudah mengingatkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Om. makasih :)
      Hehe, Om jadi bernostalgia yah, hihi. saya masih menjalani sampai sekarang :D

      Hapus
  24. Bertahun-tahun jadi anak kos saya nggak pernah dikasih kuitansi, Mas. Yang ada tahun lalu kita bikin surat perjanjian bermaterai. Takut diusir sebelum waktunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, gak pakai kwitansi tah, mbak?. huhaha, itu lebih paten, ada materai, jadi mengikat sekali :D

      Hapus
  25. iya juga sich..tanggal yang ada bisa jadi celah untuk melakukan kecurangan..tapi kasihan pak Mukhlis-nya kan,,kalo hal itu dilakukan....bakalan kalang kabut dia menalangi pembayaran semua anak kost.....
    keep happy blogging always...salam dari makassar :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, tapi saya insyaAllah tidak akan mengambil celah itu, Om. tenang, hihihi. yang paling repot Pak Dhe, beliau jadi harus bertanggungjawab, hhehe. tapi mana tega dan berlaku curang :)
      Salam kembali dari Malang, Om :)

      Hapus
  26. Aku belom pernah ngekos sih
    jadi rada2 kurang ngerti
    hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, masnya belum pernah?, wah, belum jadi perantauan yah. seru loh, mas. hihihi.

      Hapus
  27. dulu saya pernah mengalami, padahal udah bayar eh dibilang belum dan efek gak ada kwitansi jadi lemah -,-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuaduuu, kalau sudah gak ada tanda bukti pembayaran memang bisa berakibat seperti itu, mbak. gak ada bukti yang bisa ditunjukkan. kalau itu jadi celah (maaf-maaf saja) pemilik kos bisa saja berkelik belum dibayar.

      Hapus
  28. saya dulu malah sering nunggak sob sampai 3 bulan hehehe, waktunya bayar jadi kewalahan, memang bagusnya akhir bulan di bayar :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh yaaah, wah, hhehe. hebat juga bisa menghindari selama itu, mas. hihihi. kalau bayar di akhir bulan pas kiriman gak ada, susah juga, mas :D

      Hapus
  29. dalam hal kaya gini masih aja dicurangin. dasar orang indonesia -_-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wua, ini hanya celah dan ada kemungkinan untuk dicurangi, mas. saya tidak mengatakan sudah dilakukan, hhehe. sayapun tidak akan mengambil keuntungan dari itu :)

      Hapus
  30. Kalau sekarang pastinya Bayar Ngekos nya dah gak bermasalah
    Yah mas Richo..? ya udah kalau Maslah Kos nya dah kelar, saya
    Tunggu nih artikel barunya yah Mas. semangat terus berkarya dan berbagi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak ada, Om, alhamdulillah lancar. tidak pernah bersinggungan dengan pembayaran kos. hhehe, lama nggak update :D

      Hapus
  31. wah sepertinya banyak banget ya tagihannya hehe apa ga repot tuh?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak menurutku, hhaha (pembelaan), repotnya kalau ditunda sekali saja, jadi pembukuannya menumpuk untuk dicatat.

      Hapus
  32. Hallo apa kabar mas Richo? sehat sehat saja khan?

    lama juga ya belum ada cerita baru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, mbak El. kabar puji syukur sehat. bagaimana dengan, mbak?, semoga sehat juga.
      hhehe, iyah, sudah lama gak ngeblog, mbak. hihi.

      Hapus
  33. Catatan pengeluarannya rapi banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, mbak Indi, hehe tapi gak terlalu juga. masih berantakan :D

      Hapus
  34. hebat sekali perencaan keuangannya, memang ya semua pengeluaran itu sebaiknya dicatat agar kita tidak kebobolan sewaktu-waktu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih. dijadikan kebiasaan, nanti bisa direview sendiri. seru-seruan, jadi tahu seberaba besar pengeluaran di tiap hari, bulah, dan satu tahunnya :)

      Hapus
  35. wah, kayaknya sih boleh dicoba.. tapi kok kayaknya pengeluarannya gedhe ya mas? :mrgreen:

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaha, jangan dicoba, mas. karena resiko tidak bergaransi, ditanggung sendiri, haha. sudah saya sensor loh, mas :D

      Hapus
  36. Hehe...pinter banget sih anak kos satu ini...bisa mencari celah.... tapi...sebaiknya dibayar tepat waktu aja...meski kita bisa 'curang' dan nggak ada yang tahu, tetep loh ada yang tahu: hati kecil kita sama Yang Di Atas.... Etapi, kalau kepepet memang nggak ada uang buat bayar kos berarti namanya rejeki ya... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mencolok soalnya, Mbak. hihihi. iyah, Mbak, sejauh ini saya tidak memanfaatkan untuk berlaku curang. yang saya takutkan ya itu, Tuhan yang pasti tahu, hhehe. lah, kok masih ada kekepetnya, Mbak. wahaha :D

      Hapus
  37. misal nya Pembayaran uang kos abang mulai dari 02 Februari 2014 sampai dengan 02 Maret 2014. abang membayar nya di tanggal 2 februari atau di tanggal 02 maret ?

    BalasHapus
  38. Hahah sedikit bermasalah. semangat bang

    BalasHapus