Jangan tangisi apa yang bukan milikmu

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPkn) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan untuk siswa Sekolah Dasar. Di mana materinya berfokus pada pembentukan diri dari berbagai perhatian. Mulai dari nilai luhur, moral, sosiokultural, agama, dan seterusnya. Yang mana, semua berakar pada budaya bangsa kita, Indonesia.

Well, saya tidak akan mengupas berdasarkan kurikulum terbaru, tidak. Saya tak memiliki kapasitas untuk itu (untung sadar, Cho!). Di sini saya hanya ingin bercerita kejadian semalam, sekitar pukul 22.20 WIB. Iyah, bermula dari Pak Lik saya yang meminta diketikkan soal Ujian Tengah Semester Genap untuk siswa kelas II di SDN Sera Timur, Kecamatan Bluto, Sumenep. Tempat beliau mengajar.

*) Screen capture soalnya

Soalnya sedikit, total hanya 15 buah soal saja. Terdiri dari sepuluh soal pilihan ganda, dan uraian sebanyak lima soal. Bobot soalnya juga terbilang sangat mudah. Saya ambil contoh secara acak, beberapa soal di antaranya seperti:

1. Ketika bermusyawarah ciptakan suasana ….
    a. Gaduh                b. Ramai                       c. Tenang
2. Berkata sesuai dengan keadaan yang seharusnya adalah pengertian dari ….
    a. Kejujuran           b. Kedisiplinan             c. Kebenaran

Sedangkan untuk soal uraian seperti ini:
1. Setiap peserta musyawarah dapat mengajukan ………………………….
2. Jika ada peserta mengajukan pendapat kita harus ………………………….

Bagaimana, mudah sekali kan?, *ditimpuk kapur tulis. Hhaha, iyah ngomongnya sekarang yak, paling dulu saya gak akan berani mengatakan seperti tadi. Boro-boro mudah, mungkin kalau saya ngerjakan itu harus memeras keringat dulu, tuk sekedar menghasilkan satu jawaban saja. Akhirnya saya sadar juga.

Secara garis besar soalnya memuat seluruh pokok bahasan yang dikuasai siswa dalam satu semester. Setelah saya lihat sekilas dari buku panduannya, semua membahas mengenai musyawarah, sikap dalam musyawarah, kejujuran, dan kedisiplinan. Tentu, berdasarkan standar kompetensi yang terdapat pada buku pelajaran tersebut, yang dijadikan sebagai acuan pembelajaran untuk kelas dua di sana.

 *) Ini dia buku panduannya (dok pribadi)

***
Ngomong-ngomong kelas dua SD. Saya punya pengalaman yang tak terlupakan dan sangat membekas sekali. Eng, tapi gimana yah, rasanya dada saya sesak sekali, dan tetesan air matapun gak sanggup dihindari tuk sekedar mengenangnya. Sebenarnya berat jika dibahas di sini. Tapi saya akan mencoba bercerita. Yah, dengan harapan kejadian yang pernah saya lalui dahulu, gak ikut dialami oleh adik-adik kita nantinya. Semoga. *alah, ngomong apa saya?

Nggak-nggak, gak seburuk itu. Tapi cukup memalukan untuk diceritakan. Karena saya juga menangis (saat itu). Huaa, berat kan untuk diceritakan?, please, ngertiin perasaan saya. Dan mohon nanti jangan dicerikanan kepada siapapun yah. Janji dulu yah?, setelah itu, baru saya lanjutkan. Aih, Cho, dasar anak alay. Maklumlah alay, suka berlebihan dalam mengeksplorasi perasaannya.

Jadi begini, ketika saya duduk di bangku kelas dua SD. Pada saat itu memasuki ujian catur wulan pertama. Aduh, catur wulan?, sudah kayak zaman dulu sekali yak. Waktu saya kelas dua istilahnya masih catur wulan. Iyah, kalau sekarang sudah berganti istilah menjadi semester. Ketahuan yah, angkatan tua. Eh nggak juga ding, saya kelahiran 91 loh. Tua kan? *EH, Hhaha..

Lanjut..
Kalau gak keliru mengingat, saya dulu duduknya di baris paling depan, di bangku paling tengah. Posisi tempat duduk saya gak pernah berubah. Begitu juga dengan teman sekelas lainnya, selalu sama. Tapi tidak saat ujian berlangsung, di mana tempat duduk kami berbeda (diacak). Jadi siswa duduk berdasarkan nomor ujian masing-masing. 

Berarti saya duduk gak pada tempat biasanya, bukan?. Berbeda dengan anak kuliahan, yang setiap pertemuannya saja belum tentu menempati tempat duduk yang sama. Kondisi ini baru pertama kalinya saya alami, saat kelas satu sepertinya tidak ada pengacakan kursi duduk.

Saya gak bisa protes, pasrah saja, dan menerima kenyataan (lebay) yang ada. Jadi, yang bisa saya lakukan hanyalah menangis. Menangis kala menyadari tempat duduk kesayangan saya ditempati teman sekelas lain (lupa siapa namanya). Dan saya harus rela menduduki kursi yang bukan tempat biasanya.

Ah, gak mauuu, rasanya gak enak saja, aneh (yak, saya yang aneh, haha). Tapi benaran, dulu saya sampai menangis loh, dan sembari ngemilin kapur tulis. Aih, yang terakhir tidak. Saya juga masih ingat, mbak Dewik dan (alm.) mas Hedi mencoba menenangkan saya di kelas. Mereka juga terus memberikan pemahaman dan menjelaskan kepada saya, kalau semua itu hanya sementara saja.

Lambat laun, saya mulai meneria kondisi yang ada. Pipi sayapun juga semakin mengering dari basahnya air mata. Ujian di hari pertama berlangsung dengan lancar, meski harus mengawalinya dengan tangisan. Benar, semua itu sebenarnya tak perlu terjadi. Entahlah, saya dulu sampai mengalami kejadian seperti itu. Sepertinya gak bisa menerima kenyataan ketentuan yang sudah semestinya.

Maklum yah, saya kelas dua SD tuh sangat polos sekali, huaha. Apalagi sifat bawaan dulunya yang pendiam dan pemalu. Asli, akut sekali. Lah sekarang, Cho?, ng.. masih kok *pasang muka polos. Oke, jangan percaya. Kalian pasti tahu, kalau sekarang saya sudah gak pemalu lagi, yang ada malah malu-maluin :D.

Berawal dari mengetik soal yang akan ujikan tadi, saya jadi teringat kejadian konyol itu. Wuaaa, kebayang semua perasaan saya ketika itu. Kalau dipikir sekarang, kok bisa-bisanya saya sampai nangis segala yak?, haha. Auk.. ah, gelap. Jika ditarik pesan moral dari cerita saya di atas ialah jangan tangisi apa yang bukan milikmu. Hhaha, bicara sendiri depan cermin. *Komunikasi interpersonal

Ini ceritaku, apa ceritamu? (presented by: Undomie

Yak, barangkali ada yang pernah mengalami hal serupa?, ataukah mengalami kejadian lain?, ketika masih menjadi siswa Sekolah Dasar. Hhaha, siapa tahu dengan kuesioner ini, saya memiliki rekan senasib, biar gak sendirian, gitu. Moahahaha *ngakak gegulingan


Richo A. Nogroho
Sumenep, 03 Maret 2014
Hai, sudah baca yang ini?

40 Komentar. Tambahkan juga komentarmu »

  1. Mas Richo nangisnya pakai guling-guling gak? hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha, nggak, soalnya mau ujian baju takut kotor, hhaha. jadi milih nunduk nangisnya mbak Nunu.. :D

      Hapus
  2. kalau saya kejadian waktu SD yang tidak pernah saya lupakan ketika dimarahin sama guru gara-gara baca komik TATANG S dikelas, saya dipanggil kedepan kelas terus disobek-sobeklah itu komik dan yang lebih parahnya lagi yang jadi gurunya ayah saya sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wadu, beliau tegas sekali. harapannya mungkin biar anak didiknya jadi lebih mau menghargai, dan berfokus pada materi yang disampaikan. haha, terus setelah sampai rumah, mas minta ganti sama ayah kah?, ihihihi.

      Makasih yah mas Gun, sudah berbagi cerita yang tak terlupakan :)

      Hapus
  3. Sykur masa SD gak pernah nangis*SokKuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ciee, selama di SD gak pernah ngeluarkan air mata, selamat mas. ahahay..

      Hapus
  4. Ckckck... Udah, jangan nangis... Kirain ada kejadian apaan :p.
    BTW itu soal ujian PPKN setelah bertahun2 berlalu masih seperti itu? Maksudku, ya ampun... Aku SD tahun berapa yaaa *berasa tua. Kirain sudah apa peningkatan kurikulum atau apa kek. Apa yg sudah berubah lebih (maaf) berkualitas itu baru dari SMP ke atas gitu? *Maklum bukan pengamat kurikulum. Maksudku, kan jaman sekarang udh banyak yg kritik sistem ajar sekolahan yg orientasinya terlalu hafalan. Soal esainya juga... kurang bersifat memancing kreativitas/pemikiran anak2nya... :(

    Waktu SD pernah didiskriminasi :'(, serius yah. Gara2 aku bukan anak guru/pejabat desa. Bersyukur setelah kelas 4 ke atas ada seorang guru yg di luar mainstream saat itu. Beliau keliatan banget sengaja menonjolkan prestasiku di kelas *ini narsis apa? :P. Maksudku, ketika yg lainnya hanya sibuk melestarikan prestasi anak2 yg sama yg sepertinya rankingnya unbeatable, beliau seperti berusaha menunjukkan bahwa semua org bisa berprestasi di kelas. *Oh, iya, aku tuh dulu pendatang baru di jajaran ranking 5 besar. Sebelumnya rankingku gede2, waktu kelas 1, pertama kalinya dpt raport rankingku.... 21! Hwahaha... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha, pelmen duyuuu kakak :P
      Ah, mbaknya mancing bahas ginian, saya di atas sudah mengatakan tidak memiliki kapasistas, adu mana Pak Lik saya nih, mana?, bantu menjelaskan, hhaha. dari penyusunan bukunya berdasar kurikulum tingkat satuan pendidikan yang (katanya) berpedoman pada standar isi dan standar kompetensi lulusan, selain itu panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. tapi tetap saja mbak, bobot soal yang ada juga tidak terlalu luas cakupannya, lebih seperti soal psikologi saja. Kalau setingkat SMP ke atas mungkin terlalu tinggi juga untuk kelas dua SD, yang belum terlalu memiliki gambaran luas. tapi saya mengerti maksud mbak :). Semoga pihak yang berkepentingan meningkatkat kualitas pembelajaran untuk adik-adik kita. Amin..

      Wah gitu mbak, saya bersyukur selama SD tidak mengalami itu mbak, tidak ada perbedaan kasta, baik dari peringkat maupun secara eksternal (lingkungan, keluarga, jabatan dll). Puji syukur ada beliau, yang gak memperlakukan siswanya seperti tadi. Kalau ini jadi teringat guru SMK saya mbak, beliau ngajar akuntansi (jurusan saya juga, hihi), gak sekedar menuntaskan tugasnya mengajar saja, tapi dengan telaten membimbing siswa yang terlambat dalam memahami materi, meski ditanya berulang tetap saja meladeni kami, tanpa berkeluh sedikitpun, tetap saja dengan senyum khasnya. kadang kan ada mbak, guru yang sekedar ngajar datar terus, jadi siswa yang pintar oke-oke saja, sedangkan (maaf) yang tidak, jadi ketinggalan dan beliau gak terlalu peduli, asal ngajar saja sudah.

      Hhehe, terima kasih yah mbak, sudah mau berbagi cerita, menarik saya menyimaknya, makasih yah :)

      Hapus
  5. aku sih gak pernah nangis pas ujian.. aku waktu SD dulu bintang kelas. hahahaha.. tapi memang semua orang tuh pasti ada kekurangan, dan kekurangan saya adalah.. masih suka ngompol sampai kelas 5 SD.. bahkan pernah ngompol di sekolah karena gak berani izin ke WC karena gurunya galak

    BalasHapus
    Balasan
    1. hhaha, saya kaget mas, lantaran belum terbiasa dengan tata cara pra-ujian, adanya pengacakan tempat duduk, ehehe. haha sip :). wadu mas, gegara takut sama beliau sampai basah-basahan, terus diberikan izin pulang yah mas?. kalau soal ngompol saya baru berhenti kelas tiga SD mas (adik tingkat berarti yak), ihihihi..

      terima kasih sudah bercerita mas, kalau mengingatnya bisa ngebuat ketawa-ketawa yah :D

      Hapus
  6. Dalam kasus pemilihan bentuk soal, itu menurut saya (yang agak sok tahu, maapin yah :) ), pemilihan soal dengan model multiple cois/pilihan ganda sebenarnya sebuah pilihan yang kurang tepat ketika digunakan untuk mengukur tingkat keberhasilan pembelajaran. tapi mau gimana lagi lah wong sudah umum, lagian target waktu untuk mengoreksi sampai pembagian buku raport sangat sedikit, belum lagi kalau muridnya banyak, hadeh - bisa mabok tuh bpk ibu guru he-he
    oleh karena itu samapai sekarang soal pilihan ganda masih menjadi andalan dalam setiap ujian siswa.
    saya hanya berharap, mudah2an suatu saat model ini bisa dikurangi atau berbanding sama dengan model2 ujian dengan cara yang lebih cerdas dan mendidik - menghargai manusia dengan karyanaya, bukan hanya dengan menilai 'salah benar-nya'. (sok tahu lagi yah)....
    saya kasih B untuk karya ms Richo, he-he, dengan alasan (kata dosen saya dulu), nilai A itu Hak Tuhan, B Haknya Dosen, C Haknya mahasiswa,--- Maaf Lg sok tahu Ms Richo :)
    Salam Saya Ms Richo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa, saya bingung merespon komennya, iihihi. berhubungan lagi dengan sistematika dan bentuk soalnya. lagi-lagi saya harus mengatakan itu di luar kapasitas saya, mas. karena saya tidak bisa mewakili guru, sekolah atau bahkan Kemendikbud?, eh terlalu jauh juga ding. mungkin regional dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupeten saya, Sumenep, meski yang menjadi kepala Dinasnya tetangga saya sendiri, pun dengan kedua orang tua saya juga sebagai tenanga pendidik. aiiih tapi no komen yak, PAS, haha. di sini yang menjadi benang merahnya sebenarnya cerita saya (nangis, red) itu, gak bermaksud memaparkan bentuk yang ada. ampun, itu hanya ingin menegaskan awal pembentukan ide dari tulisan saya di atas :)

      Tapipun saya juga sependapat dengan mas Adib, jika harus memberi masukan untuk penyempurnaan dalam sistem yang mestinya sudah mulai dibenahi. semoga. hhaha mas ada-ada saja. saya jadi teringat guru saya di SMK (lagi, tapi beda dengan komen saya sebelumnya), beliau guru akuntansi (lagi, haha), yang sekaligus wali kelas kami saat itu (2 Akuntansi II) pada saat itu. beliau berkata "hebat, nilai A (agama) sudah seperti nabi saja", tanpa salah sama sekali maksudnya, hhaha.. :D.

      Salam juga mas, terima kasih komentarnya, semoga ada pihak berkepentingan membaca. dan maaf, tadi saya hanya cuap-cuap saja, bingung mau balas sesuai isi komennya :D, tapi saya setuju :). salam saya juga mas Adib :)

      Hapus
  7. Lha saya dulu nggak pakai ujian catur wulan,apalagi semesteran. Nilai rapot berdasarkan ulangan biasa, harian.
    Tempat duduk yang bukan milik saya juga pernah tapi waktu ujian SR. Kami harus ke kota yang jaraknya 8 km, naik sepeda onthel diantara bapak. Nggak masalah tuh,makanya saya nggak nangis.

    Hidup pasti ada kesedihan dan kegembiraan. Setelah tua gini sudah mulai memahami keadaan itu. Saya juga nggak pernah sedih berkepanjangan. Orangtua, mbah meninggal dunia paling hanya menangis sebentar. Setelah itu ya kembali seperti biasa saja.

    Terima kasih artikelnya yang bermakna.
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, gitu yah Pak Dhe. sepertinya kala itu saya belum lahir yah Pak Dhe, hohoho. 8km, adu jauh sekali jaraknya, saya pernah dengar cerita juga dari mbah Putri, kalau beliau dulu juga melakukan perjalanan yang tidak dekat. Ah Pak Dhe sudah kelihatan tegarnya gitu, gak salah lagi sebagai bakal calon Jendral, dan memang terbukti gagahnya dari dulu :)

      Inggih Pak Dhe, jika mengalami kesedihan saya akan lebih berusaha tidak larut, dan terpuruk. akan berusaha lebih ikhlas lagi, untuk meneripa apapun ujian maupun cobaan dalam menjalani hidup ini. semoga beliau-beliau tenang berada di alam sana. Amin Ya Allah..

      Matur nuhun yah, Pak Dhe. sudah berbagi pengalaman di sini, begitu juga dengan nasihatnya yang tersirat. begitu bermanfaat bagi saya.
      Salam hangat juga dari Sumenep :)

      Hapus
  8. saat SD saya dulu juga masih pakai caturwulan. tapi gak pernah nangis kalau cuma pindah bangku, saya termasuk anak yang gak cengeng. beneran.
    cuma nangis gara-gara telat masuk tes. *sama aja ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yiha, sama, toss mas :D. kalau nangis karena telat masuk tes. em, yang ini serupa tapi gak sama, hhaha.. :P

      Hapus
  9. hahaha ...
    ini kocak nih ... ya namanya juga masih anak-anak ya Rich ... kalau berada di situasi yang diluar kebiasaan pasti ada perasaan tidak comfortable ...

    BTW ...
    Itu soal ... akan diujikan kapan Rich ... mudah-mudahan sudah diujikan yaaa ...
    kalo enggak ... nanti salah satu orang tua murid bisa donlot soal ini nih ... hahaha

    dapet bocoran gratis ...

    salam saya Richo

    (5/3 : 7)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, Om mah ketawanya banter sekali, ngeledek nih, bahaha. hhehe, iyah Om, kaget dan gak ngeh, kenapa harus pindah coba (pikir saya dulu), jadi gak pewe..:D

      Beres Om, itu sudah diujikan pagi harinya, sedangkan saya ngepost sorenya. tapi blog geje saya kemungkinan gak akan terjangkau oleh beliau-beliau Om, ohohoho..

      terima kasih yah Om, sudah membuat saya tidak begitu menyesali kejadian itu, hhihihii.
      Salam Om :)

      Hapus
  10. Membaca soal-soal di atas membuat saya teringat kembali pada masa-masa SD dulu (meskipun saya tidak lulus SD).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, iyah mas, saya juga jadi ingat pas ujian itu, nangis :D

      Hapus
  11. PKn duh, saya waktu SD suka bangeeet pelajaran PKn abisan setiap pilihan jawaban, pasti udah ketauan jawabannya hhe

    wkwkwk, aib sd masih dibuka2 :p

    ehh, aku juga smpet tuh ngalamin masa2 catur wulan hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya berbau sikap dan prilaku, tinggal nentukan yah mbak :D
      Wah, keceplosan itu, huahaha.
      Yes, ada angkatan tua juga, tos mbak Rani :D

      Hapus
  12. tulisannya bagus juga gan, klau ngomongin soal ujian jadi teringat masa-masa waktu masih sekolah dulu, hehehe... semoga makin ramai blognya gan..

    happy blogging :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas. hhehe, iyah mas, kalau mengingatnya bikin ketawa-ketawa yah, hahaha. Amin Ya Rob, makasih doanya mas :)

      Hapus
  13. keren nih blognya :) salam kenal ya. makasih jg udah follow blog saya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, mbak (berlebihan, haha), salam kenal kembali:), hehe, dengan senang hati, makasih sudah berkunjung di blog sederhana saya :)

      Hapus
  14. ceritaku ada tuh, monggo kunjungi my blog :)
    salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh begitu yah, ok nanti meluncur ke sana :D
      Salam kenal juga yah :)

      Hapus
  15. Kejadian konyol kelas 2 SD? Apa yaaah.. Gak ada yg konyol sih. Yg ada aku ingat waktu itu aku lg rajin-rajinnya sekolah sampai2 guruku ngasih ranking 4 :D
    Itu posisi tertinggi lho selama aku sekolah LOL :)))

    Kunjungan baliknya yaa masbro ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, mantap, peringkat empat. sudah masuk lima besar :)
      Siap mbk bro, meluncur ke TKP :D

      Hapus
  16. Nah jadi inget nih Mas...
    Waktu istirahat, saya diajak teman menyusuri sungai. Agak jauh berjalan, tiba di sungai yg airnya agak dalam. Teman saya langsung buka baju dan celana *porno ya* nyemplung berenang. Saya kepincut, ikut juga.
    Keasyikan berenang, lupa waktu. Berenang usai, kembali ke sekolah, benar ternyata sudah kesiangan.
    Masuk ke ruang kelas. Pak Guru tanya, dari mana? Berenang Pakkk...serentak kami jawab.
    Pak Gurunya gak tanya lagi. Ia langsung ambil penggaris kayu yang panjang. Jebret...jebret...saya dapat pukulan di punggung tuh Mas...hihihi kapok deh ah... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huaaa, kang Ujang, ceritanya ngebuat saya ketawa, dan terharu juga saat dipukul, hoho. kalau berenang, saya jadi teringat masa SMK, pelajaran Penjaskes, ada materi renang. nah apesnya, saya nggak bisa urusan berenang, apalagi dengan berbagai gaya yang harus dikuasai. lah saya, boro-boro ngerti gaya yang diajarkan, paling gaya kelelep bisanya, kalaupun bisa ngambang, paling hanya beberapa meter saja, setelah itu mulai oleh dan gak stabil (gak bisa ngambang lagi) haha.

      Balik ke cerita akang, tapi yah memang gitu yah, anak SD kalau ditanya jawabnya masih apa adanya, haha. kalau gak ingin kapok, akang mah mestinya izin dulu sama beliau (belum tentu diberi izin yak, hihi). terima kasih yah, kang Ujang, sudah berbagi cerita masa sekolah, lucu yah kalau mengingatnya :D

      Hapus
  17. saya SDnya di kalimantan mas....
    harus jalan kaki sejauh 1km lebih, padahal waktu itu saya masih unyu banget #kebayang nggak sih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Orang Kalimantan yah mas?:)
      wah, lumayan juga, haha, iyah kebayang dan percaya deh, karena masih SD dengan usia muda tentu gitu, unyu:P

      Hapus
  18. pengalaman masa kecil ya hehhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah mbak, lebih tepatnya aib, bahaha :D

      Hapus
  19. Pas SD, selalu duduk di bangku depan karena pake kacamata. Padahal kan pengen juga duduk di belakang, biar bisa nggosip sambil cekikikan. Resikonya jadi ditanyain guru terus deh.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, resiko tersendiri bagi siswa yang duduk di barisan depan yah, mbak. gerak-gerik terbatasi, gak bisa leluasa seperti mereka yang duduknya di belakang. terima kasih yah, mbak Beby, sudah berbagi cerita :)

      Hapus
  20. kakak ... menanggis sambil ngemil kapur tulis itu apa rasa nya ??? pasti kayak makan ice cream yaa ???? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huahaha, masih lebih enak ngemil kapur tulis.. *jangan percaya, ahaha..

      Hapus